EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bertahan pada level tinggi pada Kamis (24/9) setelah mengalami pemulihan pada sesi perdagangan sebelumnya. Ketidakpastian pasokan energi global dipicu oleh dinamika hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemu titik terang.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas USD92 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah acuan Brent tercatat bertahan kokoh di atas level USD102 per barel.

Eskalasi ketegangan dipicu oleh pernyataan tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam Majelis Umum PBB. "Iran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS tetap berlaku," tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (24/9). Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada ancaman dan tidak akan menyerahkan hak pengembangan teknologi nuklir untuk pembangunan ekonomi.

Di sisi lain, respons kebijakan dari negara produsen dan konsumen utama juga memengaruhi pergerakan pasar. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah berkoordinasi dengan penyulingan minyak domestik untuk pengurangan sukarela ekspor diesel AS sebagai alternatif larangan resmi pengiriman luar negeri.

Sementara itu, Arab Saudi mengambil langkah strategis untuk melanjutkan ekspor minyak melalui jalur pipa utama Timur-Barat. Di sisi geopolitik Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan telah membahas opsi gencatan senjata sektor energi bersama Presiden Trump.

Tingginya harga minyak mentah dunia di atas USD100 per barel menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer), lonjakan harga komoditas energi global ini berpotensi membengkakkan beban subsidi energi APBN serta meningkatkan tekanan inflasi domestik.(*)