EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat merespons ancaman penurunan kelas dari dua lembaga indeks global.

Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy menekankan pihaknya akan melakukan yang terbaik agar Indonesia tetap bertahan di status emerging market.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat Indonesia atau Bursa Efek Indonesia bertahan di emerging market dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan," ujar Irvan dalam jumpa pers, Rabu (8/7/2026).

Sebagai informasi, sebelumnya index global provider MSCI juga mengumumkan freeze atas inklusi emiten di Bursa Indonesia pada Review Indeks MSCI Agustus mendatang.

Adapun, atas hal ini muncul pula spekulasi liar pasar terkait ancaman downgrade pada Review MSCI November mendatang. Hingga, terbaru S&P DJI yang menetapkan Indonesia dalam daftar pantau hingga 2027 mendatang.

Irvan berlanjut mengatakan potensi index outflow akibat review S&P DJI. Ia menyebut angkanya sekitar 150-200 juta USD atau Rp3,5-4 triliun, jauh lebih kecil dari rumor.

"Kami lagi mencari angka dan lagi cari hitungan kira-kira apa aja dan berapa yang akan keluar," kata Irvan.

BEI saat ini fokus pada 3 hal konsistensi implementasi free float 15% bertahap hingga 2029, perbaikan metodologi High Shareholding Concentration (HSC), dan menjaga integritas pasar lewat pengawasan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Informasi yang kita sampaikan adalah informasi yang akurat dan kita menjunjung tinggi integritas pasar. Semua upaya manipulasi transaksi kita tindak lanjuti," tegas Irvan.

Irvan optimis pasar masih punya potensi besar. BEI pernah mencatat transaksi Rp34 triliun per hari. Ke depan BEI juga akan merilis penyempurnaan aturan Papan Pemantauan Khusus dan terus meluncurkan produk baru seperti ETF.