EmitenNews.com - Gema suksesi Bursa Efek Indonesia kali ini nyaris tidak terdengar. Meski fit and proper test calon nakhoda pasar modal tersebut tinggal hitungan bulan. Fakta yang terlihat sunyi senyap dari hiruk-pikuk bursa calon bos Indonesia Stock Exchange periode 2021-2024. Padahal sebelumnya, pesta demokrasi memilih pimpinan bursa efek ini sudah ramai sekitar 6 bulan dari tahap uji kompetensi dan kepatutan para calon bos baru dan paket tim yang dibawanya.
Fenomena ini bertolak belakang dengan perkembangan IHSG yang meski penuh dinamika namun cendrung bergerak dengan trend positif. Ibarat gradasi warna IHSG, dari hijau muda makin menghijau. So, what is wrong? Atau mengutip ucapan penyanyi Ariel in his song,” Ada apa dengan mu, Suksesi IDX?
Soal Pandemi Covid-19 dan vaksinnasi yang dilakukan pertengahan Januari 2021 mendominasi pemberitaan. Semua berharap positif dengan langkah tersebut untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional, termasuk di industri pasar modal. Adalah fakta sejumlah kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah kondisi pandemi Covid-19, berdampak pada kenaikan jumlah investor hingga 42 persen.
Dari data BEI di November 2020 tercatat jumlah investor pasar modal sudah sebanyak 3,53 juta. Jumlah ini meningkat sebesar 42 persen jika dibandingkan 31 Desember 2019 yang sebesar 2,48 juta. Bahkan saat ini, Januari 2021 sudah tembus 4 juta investor. Ini sesuatu yang baik untuk meyakinkan masyarakat khsusunya investor tentang kepercayaan publik terhadap pasar modal.
Meski sempat terperosok di bawah level 4.000 di Maret 2020, tetapi dengan strategi jitu jajaran direksi BEI, sejumlah langkah dan insentif dilakukan untuk memulihkan kondisi pasar modal secara pelan tetapi moving forward. Dan hingga di Januari 2021 (15/1) IHSG masih gagah bertengger di level 6.000 ke atas. Maknanya apa? Ya ini menegaskan gambaran peran strategis seorang direktur utama PT BEI dan jajarannya serta tentunya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengawal sekaligus menumbuhkembangkan pasar modal Indonesia.
Ibarat seorang pilot yang harus cerdas dan cakap mengendalikan pesawatnya untuk segala kondisi cuaca. Begitu juga dengan Direksi BEI. Ketenangan dan kecakapan tersebut sudah ditunjukkan direksi BEI saat ini (Dirut BEI Inarno dan tim) dalam menghadapi dan membuat strategi jitu agar bisa bertahan, bangkit dan bukan hanyut terbawa pandemi Covid-19 atau kondisi buruk lainnya.
Masa bakti Inarno dan timnya akan berakhir di medio 2021 ini. Lalu siapa nanti yang meneruskan? Jawabnya kita memang belum tahu. Tetapi yang jelas dan sudah menjadi kebiasaan menjelang akhir periode Direksi bursa, sekitar Januari atau 6 bulan sebelumnya, pemberitaan soal calon dirut bursa dan jajarannya yang baru akan mencuat di sejumlah media berbasis pasar modal dan ekonomi bisnis umumnya.
Pemberitaan akan semakin ramai dan menarik jika calon Dirut BEI di pastikan sosok yang baru, karena pejabat sebelumnya sudah dua kali menjabat dalam organisasi di industri pasar modal yang dikenal dengan Self Regulatory Organization (SRO). Sesuai aturan, seorang direksi bursa seperti halnya Presiden, gubernur, bupati dan wali kota tidak boleh lebih dari dua periode.
Jika melihat ke belakang, pemberitaan soal calon dirut Bursa Efek Indonesia sudah ramai dibicarakan, misalnya bursa direksi BEI di tahun 2015 atau 2018. Para figure, terutama calon Dirut BEI melakukan soft campaign dalam bentuk opini maupun guliran pemberitaan di media massa. Tiidak hanya itu. Para kandidat juga mulai melakukan lobby-lobby sekaligus meminta dukungan anggota bursa (AB). Dan itu biasanya terjadi di antara Januari-Maret, sebelum tahap fit and proper test, April.
Namun kondisi ramainya bursa calon direksi BEI periode 2021-2024 kali ini tidak terlihat. Sesuai jadwal RUPS PT BEI akan digelar Juni 2021. Jangan sampai soal suksesi direksi Bursa baru periode 2021-2024 bener-bener tidak ada bunyinya, tetapi nanti sudah muncul dan definitif saja dalam RUPS PT BEI Juni mendatang. Publik tidak sempat untuk mendengar, membaca dan melihat para calon pengelola Bursa Efek Indonesia tersebut.
Padahal sekali lagi publik memunyai hak mengenal kandidiat para direksi BEI, baik dari sisi kapasitas, integritas , dan tidak memilki cacat hukum. Satu lagi yang pasti publik ingin tahu visinya di sektor keuangan, bursa dan pasar modal hendak dibawa seperti apa dalam 3 tahun mendatang.? Yuk kita kawal suksesi IDX 2021-2024.(Yosman Mansyur).
Suasana di gedung Bursa Efek Indonesia. (Dok. Emitennews.com).
Related News
Rahasia Hiper-Growth CDIA jadi Mesin Uang Baru Prajogo Pangestu
Strategi Cash Cow Grup Bakrie lewat BNBR, ALII dan ELTY
BRMS, DEWA, VKTR Transformasi Radikal Grup Bakrie di 2026
Rahasia Napas Panjang BUMI dan ENRG, Mengapa Batubara Tetap Tangguh?
Adu Kekuatan KUB Bank Jatim vs BJB, dari Modal Inti hingga Gerak Saham
Rahasia IHSG 2025, Apakah Transisi Sektoral jadi Peluang Emas?





