EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kompak ditutup menguat. Itu dipicu lonjakan saham sektor teknologi, koreksi harga minyak mentah, dan melandainya imbal hasil obligasi pemerintah. Beberapa emiten teknologi berhubungan dengan AI tercatat mengalami penguatan cukup signifikan setelah dalam beberapa hari sebelumnya sempat mengalami tekanan.

Yaitu, Intel melonjak 12,14 persen, dan Advanced Micro Devices menguat 9,95 persen sekaligus menyentuh kapitalisasi pasar USD1 triliun. Sementara itu, Qualcomm mencatat kenaikan 9,29 persen. Di sisi lain, harga minyak mentah terpantau mengalami penurunan, di mana WTI 4,5 persen menjadi USD95,78 per barel, dan Brent 3,4 persen ke level USD100,34 per barel.

Itu setelah presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatankan perundingan dengan Iran masih terbuka. Trump akan bertemu dengan presiden Iran Masoud Pezeshkian saat menghadiri rapat dewan keamanan PBB. Sejalan dengan penurunan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun juga turun 4 bps menjadi 4,951 persen.

Penguatan indeks bursa Wall Street, dan lonjakan harga beberapa komoditas seperti nikel, timah, batu bara, dan tembaga diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Sementara itu, aksi jual masif investor asing berpeluang menjadi sentimen negatif indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah.

Sepanjang perdagangan Selasa, 22 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.320-6.255, dan resistance 6.450-6.515. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Timah (TINS), Medco (MEDC), PGN (PGAS), Petrosea (PTRO), Map Aktif (MAPA), dan Amman (AMMN). (*)