EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rawan aksi taking profit. Menilik potensi koreksi bursa regional, dan rupiah terdepresiasi membuat potensi investor asing kembali membukukan net sell.
Selain itu, para pelaku pasar masih akan menunggu data retail sales pagi ini. ”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.930, dan resisten 7.015,” tutur Alwin Rusli, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Selasa (11/10).
Secara teknikal, Indeks melemah, dan tutup di bawah level psikologis 7.000. Namun, masih berada di level support. Indikator MACD, dan Stochastic di area death cross diikuti volume jual tinggi. Beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini antara lain PGAS, ELSA, ICBP, CPIN, JPFA, BBCA, BDMN, dan PNLF.
Mengawali pekan, kemarin Indeks terkoreksi 0,46 persen menjadi 6.994. Beberapa sektor mengalami pelemahan antara lain energi minus 1,91 persen, industrials susut 1,23 persen, dan basic materials turun 1,18 persen. Investor asing membukukan net sell Rp833 miliar dengan saham paling banyak dijual BBRI, TLKM, dan ADRO.
Sementara itu, tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street kembali nyungsep. Investor khawatir kebijakan moneter kembali hawkish. Di mana, The Fed memberi isyarat kenaikan suku bunga lebih lanjut, dan kebijakan moneter lebih ketat mulai terasa. Selain itu, mortgage rate AS tinggi, dan permintaan mortgage rendah.
Pagi ini, bursa Asia langsung anjlok. Indeks Nikkei 225 nyungsep 1,72 persen, dan Kospi melemah 2,50 persen. Pagi ini, Jepang merilis current account yang kembali mengalami surplus. (*)
Related News
Kejar Saham IPO WBSA, IPOT Permudah Akses Pembelian Investor Ritel
Pasar Masuk Fase Distribusi, Mirae Sarankan Cermati Saham Defensif
IHSG Bangkit! Saham Industri dan Konsumer Jadi Motor Penguatan
MAMI Caplok Schroders Indonesia, Dana Kelolaan Gabungan Nyaris Rp180T
Menghijau, IHSG Sesi I (1/4) Melejit 1,45 Persen ke 7.150
Harga Referensi CPO Periode April 2026 Naik, HPE Kakao Turun





