EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup anjlok 1,51 persen menjadi 6.147. Itu dipicu kenaikan harga minyak, dan pelemahan Rupiah. Saham sektor teknologi, basic material, dan cyclical mengalami pelemahan terbesar. Lalu, sektor energi, dan transportasi melonjak signifikan.

Secara teknikal, indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan masih ada potensi pelemahan IHSG lebih lanjut setelah ditutup di bawah support 6.200. Sepanjang perdagangan hari ini, Selasa, 29 September 2026, IHSG akan menguji level support 6.000, dan posisi resistance 6.100.

Peningkatan kembali harga minyak di tengah ketidakpastian kapan konflik Timur Tengah akan segera berakhir, telah meningkatkan risiko akan lonjakan kembali laju inflasi. Jika inflasi meningkat di atas target Bank Indonesia (BI), dikhawatirkan akan membuat Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan.

Berdasar penilaian BI, setiap kenaikan BI Rate 25 bps diperkirakan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen. Itu membuat BI masih mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. BI juga memilih menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, dan mendorong aliran modal masuk.

Lompatan indeks dolar Amerika Serikat akibat tingginya harga minyak memicu ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed lebih lanjut, dan kenaikan yield US-Treasury. Kondisi itu, menimbulkan potensi terjadinya capital outflow dari negara berkembang sehingga mendorong pelemahan Rupiah.

Sebelumnya, BI telah memberi insentif biaya lindung nilai untuk aliran modal masuk untuk mendorong laju dana asing tanpa harus menaikkan BI Rate atau SRBI. Insentif hedging diterapkan sekitar satu bulan itu, telah mendorong aliran modal masuk sekitar USD6 miliar melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun swap.

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, United Tractors (UNTR), Medco Energi (MEDC), Cakra Buana Resources (CBRE), Erajaya Swasembada (ERAA), Elnusa (ELSA), dan Adaro Andalan Indonesia (AADI). (*)