Bank Pelat Merah: Laba Tinggi Tetapi Mengapa Merosot?
:
0
Bank Pelat Merah: Laba Tinggi Tetapi Mengapa Merosot? (Ilustrasi). Sumber gambar: KoranSeruya
EmitenNews.com - Sepanjang 2025, seluruh bank pemerintah membukukan laba bersih Rp 136,4 triliun. Tetapi capaian itu ternyata turun 4,55% dibandingkan dengan total laba bersih pada 2024 yang mencapai Rp 142,9 triliun. Lho, apa penyebab utamanya?
Pada 2026, geopolitik makin gelap ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Perang itu akan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Disrupsi rantai pasok (supply chain) makin menebal.
Hal itu bisa memengaruhi pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4% pada 2026. Target itu jauh di atas proyeksi Bank Dunia 4,7% pada 2026. Oleh sebab itu, Bank Dunia merekomendasikan fokus reformasi meliputi penyerderhanaan perizinan usaha, deregulasi sektor jasa hingga peningkatan efisiensi belanja pemerintah. Dengan demikian, kesempatan kerja semakin terbuka.
Untuk menyuburkan pertumbuhan ekonomi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menyuntikkan dana segar (fresh fund) Rp200 triliun dengan bunga rendah (4%) kepada lima bank pemerintah pada 12 September 2025.
Lima bank pemerintah itu PT Bank Mandiri (Persero), Tbk atau Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk atau BRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk atau BNI masing-masing menerima dana Rp55 triliun dan PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk atau BTN Rp25 triliun serta PT Bank Syariah Indonesia, Tbk atau BSI Rp10 triun. Dana segar itu bersumber dari saldo anggaran lebih (SAL) yang disimpan di Bank Indonesia (BI).
Pada 10 November 2026, Menkeu kembali menyuntikkan dana segar Rp76 triliun ke bank BUMN dan BUMD. Bank Mandiri, BRI dan BNI masing-masing menerima Rp25 triliun dan Bank Jakarta “hanya” Rp1 triliun sehingga total suntikan dana mencapai Rp276 triliun.
Lantaran suntikan itu dianggap kurang efektif, Menkeu lalu menarik kembali Rp75 triliun sehingga tersisa Rp201 triliun yang akan jatuh tempo Maret 2026. Namun Menkeu akan memperpanjang penempatan itu hingga enam bulan ke depan (September 2026). Kabar teranyar, Menkeu segera menyuntikkan dana Rp100 triliun dengan tenor lebih pendek.
Kinerja Bank Pemerintah
Pada 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BI menetapkan proyeksi pertumbuhan kredit masing-masing 10-12% dan 8-12%. Pada Januari 2026, kredit tumbuh 9,96% (yoy) naik dari 9,69% per Desember 2025. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi 13,48%.
Bagaimana kinerja empat bank pemerintah sepanjang 2025? Dari sisi pertumbuhan kredit (yoy), secara kualitatif BNI unggul dengan peningkatan pertumbuhan kredit 15,9% yang dibayangi Bank Mandiri 13,4%. BRI menyusul dengan 12,3% dan BTN 11,9%.
Dari sisi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), kembali BNI memegang juara dengan peningkatan DPK 29,2% yang terus dibayangi Bank Mandiri 23,9%. BTN menyusul untuk menduduki posisi ketiga dengan peningkatan 14,6% dan BRI 13,8%.
Bagaimana dengan kualitas kredit yang diukur dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL)? Bank Mandiri menjadi juara dengan NPL gross paling rendah 1,1% yang disusul BNI 1,9%. NPL BRI dan BTN masing-masing 3,29% dan 3,1%. Semuanya di bawah ambang batas aman 5%.
Sejauh mana perolehan laba bersih? Secara kuantitatif, BRI menjadi pemimpin pasar (market leader) dengan laba bersih Rp56,6 triliun. Kinerja hebat itu disusul Bank Mandiri Rp56,3 triliun, BNI Rp20 triliun dan BTN 3,5 triliun.
Secara kualitatif BTN menjadi juara pertama dengan laba bersih yang naik 16,4% yang disusul Bank Mandiri 0,92%. Celakanya, laba bersih BRI dan BNI justru anjlok masing-masing 5,5% dan 5,6%. Aduh!
Bandingkan dengan beberapa bank swasta papan atas. Laba bersih PT Bank Central Asia atau BCA Rp54,56 triliun (naik 4,94%) yang disusul PT CIMB Niaga Rp6,93 triliun (0,53%) dan PT OCBC NISP Rp5,05 triliun (3,92%). Kemudian, PT Bank Danamon Rp4,19 triliun (13,51%) dan PT Bank Permata Rp3,58 triliun (0,59%).
Penyebab Utama
Mengapa laba bersih BRI dan BNI justru merosot cukup dalam? Apa penyebab utamanya?
Related News
Menata Pengelolaan Risiko Denera
SPPA Repo Resmi: Pasar Makin Dalam, Tapi Apakah Investor Makin Paham?
Tantangan dan Prospek Emiten Industri Hasil Tembakau 2026
Menelisik Risiko Perbankan di Tengah Wacana Kenaikan Harga BBM
Rencana Tambahan Pungutan Nikel Olahan, Peluang dan Tantangan Emiten
IHSG Tertekan, OJK Salahkan Eksternal, Benarkah Sesederhana Itu?





