EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 1,69 persen menjadi 6.277. Rupiah cenderung melemah menjadi sentimen negatif. Secara teknikal, IHSG telah ditutup di bawah level MA100, dan MA60. So, IHSG akan menguji level 6.186-6.200 pada perdagangan Rabu, 23 September 2026.

Investor menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). BI diperkirakan masih mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Padahal, The Fed telah menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 4 persen, sehingga spread antara BI Rate dan FFR menjadi 1,75 persen dari sebelumnya 2 perssen.

Meski demikian spread saat ini masih lebih lebar dibanding dengan rata-rata spread selama tiga tahun terakhir pada kisaran 0,75-1,25 persen. Pelebaran spread di tahun berjalan itu, bertujuan memberi interest rate differential cukup menarik bagi investor asing guna memperkuat stabilitas mata uang Rupiah.

Oleh sebab itu, BI diprediksi baru akan menaikkan BI Rate kalau Rupiah berlanjut melemah atau jika the Fed melanjutkan tren kenaikan suku bunga. Selain itu, BI juga berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi, kecuali Rupiah melemah dengan cepat atau inflasi di atas target Bank Indonesia.

Namun, dengan koreksi harga minyak diperkirakan tekanan inflasi akan kembali berkurang. Investor juga menanti data pertumbuhan kredit diperkirakan meningkat menjadi 15 persen YoY pada Agustus 2026. Berdasar data dan fakta itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham berikut.

Yaitu, Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Asri Karya Lestari (ASLI), dan Merdeka Gold Resources (EMAS). (*)