Bursa AS Menguat, Peluang Fed Tahan Bunga Capai 80 Persen
:
0
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat menguat tipis pada Senin (5/10).(Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat menguat tipis pada Senin (5/10). Pergerakan positif ini memperpanjang tren kenaikan dari sesi sebelumnya setelah rilis data pasar tenaga kerja AS yang melandai mengurangi tekanan terhadap Bank Sentral AS atau The Federal Reserve untuk melanjutkan pengetatan suku bunga.
Kontrak berjangka Nasdaq 100 mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 0,3 persen. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones dan S&P 500 mengekor dengan penguatan masing-masing sekitar 0,1 persen.
Penguatan Wall Street dipicu oleh penyerapan tenaga kerja sektor non-pertanian AS pada September 2026 yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar, disertai perlambatan pada tingkat pertumbuhan upah pekerja. Menurut Trading Economics pasar saat ini memperkirakan hampir 80 persen kemungkinan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tetap tidak berubah pada bulan ini.
Meskipun bursa saham bergerak positif, para pelaku pasar tetap mencermati pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) yang bertahan di level tinggi. Yield Treasury bertenor 10 tahun masih berada di kisaran level tertinggi sejak tahun 2002.
Fokus investor sepanjang pekan ini tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi utama AS, antara lain laporan indeks aktivitas jasa ISM, risalah hasil rapat The Fed bulan September, serta indeks sentimen konsumen dari Universitas Michigan. Selain itu, pasar menantikan rilis laporan keuangan kuartalan dari sejumlah korporasi global seperti PepsiCo, Levi Strauss, Constellation Brands, dan Delta Air Lines.
Meredanya spekulasi pengetatan suku bunga The Fed memberikan angin segar bagi pergerakan pasar keuangan berkembang, termasuk Indonesia. Sinyal penahanan suku bunga AS ini berpotensi menahan laju aliran modal keluar (capital outflow) serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)
Related News
Rupiah Tertekan Defisit Ganda, BI Dikritisi Jadi "Mesin Utang"
OPEC+ Tahan Produksi, Minyak Brent Tembus USD102
Dividen Interim ASII Rp3,89 Triliun, Recording Date 14 Oktober 2026
Inflasi Terkendali Surutkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Produk Sampel Nestle Dinyatakan tidak Aman oleh Regulator Pangan
Atasi Krisis, 80 Persen Cadangan Minyak Darurat Dilepas ke Pasar





