EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup bervariasi mayoritas melemah meski data inflasi sedikit lebih rendah dari prediksi. Berdasar data Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (AS), Personal Consumption Expenditure (PCE) sebagai rujukan data inflasi paling utama bagi The Fed, pada Agustus lalu tercatat naik 0,3 mom.

Itu sejalan konsensus ekonom, menjadikan PCE secara tahunan naik 3,4 persen yoy, lebih rendah dari proyeksi 3,7 persen yoy. Tanpa menyertakan harga makanan dan energi, PCE inti Agustus 2026 naik 0,2 persen mom/3 persen yoy, lebih rendah dari konsensus masing-masing diprediksi naik 0,3 persen mom/3,7 persen yoy.

Angka tahunan lebih rendah dari ekspektasi itu, hasil dari perubahan cara perhitungan Biro Analisis Ekonomi AS terhadap beberapa komponen PCE. Meski data PCE lebih rendah dari ekspektasi namun imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10, dan 30 tahun kembali naik masing-masing 4 bps menjadi 5,298 persen, dan 5 bps menjadi 5,642 persen.

Aksi jual masif investor asing, mayoritas indeks bursa Wall Street turun, dan terkoreksi harga komoditas mineral logam diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Lonjakan harga minyak mentah, dan batu bara berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

Jadi, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung Melemah dengan kisaran support 6.010-5.950, dan resistance 6.130-6.190. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Astra Agro (AALI), Bukit Asam (PTBA), XLSmart (EXCL), Sarana Menara (TOWR), Hartadinata (HRTA), dan Antam (ANTM). (*)