Didik: Penghentian Data Center Jabar Rusak Investasi
:
0
Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai tindakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menghentikan proyek pembangunan data center secara sepihak berpotensi merusak iklim investasi nasional.
EmitenNews.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai tindakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menghentikan proyek pembangunan data center secara sepihak berpotensi merusak iklim investasi nasional. Penyetopan ini terjadi di tengah perebutan peluang investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bernilai total Rp360 triliun.
Didik mengingatkan agar Indonesia tidak terperosok ke lubang yang sama seperti pada dekade 1980-an, saat Indonesia kehilangan potensi industri semikonduktor akibat batasan otomatisasi produksi yang memicu perpindahan raksasa teknologi ke negara tetangga.
"Sama seperti yang terjadi sekarang di Jawa Barat dimana investasi sudah dilaksanakan tetapi secara sepihak dihentikan. Ini merupakan pukulan telak terhadap investor menjadi palu mematikan bagi investasi karena tidak mendapatkan iklim berinvestasi yang nyaman dan pasti," ujar Didik J Rachbini di Jakarta, Minggu (4/10).
Indonesia saat ini telah memiliki 182 data center yang beroperasi, dengan mayoritas berlokasi di Jakarta sebanyak 94 unit dan Batam sebanyak 16 unit. Khusus di Batam, nilai rencana investasi pusat data diperkirakan mencapai USD15 miliar hingga USD20 miliar guna mendukung target kapasitas nasional sebesar 1,3 gigawatt.
Sejumlah pemain global turut memperkuat komitmen infrastruktur teknologi di dalam negeri. AWS mengalokasikan komitmen hingga USD5 miliar, raksasa teknologi lain mengumumkan perluasan cloud senilai USD1,7 miliar, serta Firmus yang membangun kampus data center di Batam berkapasitas 170.000 akselerator AI.
Didik mendesak pemerintah pusat untuk membenahi kendala regulasi di tingkat daerah agar iklim usaha tetap kondusif. Langkah ini dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional keluar dari stagnasi tingkat moderat 5 persen.(*)
Related News
CPO, Migas, Hingga AI Sumbang Potensi Rp2,03 T di CAEXPO
Briket Kayu RI Laris di Spanyol, Peluang Bagi Industri Olahan Kayu
Pemerintah Incar Rp10 Triliun Dari Lelang Sukuk Selasa (6/10)
Stok Beras 4,8 Juta Ton, Bapanas Kawal Distribusi di Ritel Modern
CIMB Niaga Ganjar Pejuang Mimpi dengan OCTO
Top Losers Sepekan, Eks Saham Gocap Dominasi! DADA hingga GOTO





