EmitenNews.com - PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) emiten teranyar hasil merger grup Sinarmas memperoleh penegasan peringkat idA+ dengan prospek stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Lembaga pemeringkat juga menegaskan peringkat idA+(sy) untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II yang diterbitkan perseroan.

Analis Pefindo dalam keterangannya dikutip Selasa (10/3/2026) menyebut, “Peringkat tersebut didukung oleh posisi pasar Moratel yang kuat, arus kas stabil dari proyek Palapa Ring Barat dan Palapa Ring Timur, serta basis pelanggan dan layanan yang terdiversifikasi.”

Meski demikian, profil kredit perseroan dikatakan analis Pefindo disebut masih dibatasi oleh ketatnya persaingan di industri fixed broadband serta risiko regulasi terkait ekspansi jaringan.

Penilaian tersebut juga telah mempertimbangkan rencana penggabungan usaha Moratel dengan entitas grup Sinarmas PT Eka Mas Republik (EMR) yang beroperasi dengan merek MyRepublic. Dalam struktur transaksi yang diusulkan, Moratel akan menjadi entitas yang bertahan, dengan target penyelesaian pada paruh pertama 2026, setelah memperoleh persetujuan regulator dan pemegang saham.

Menurut Pefindo, transaksi tersebut berpotensi memperkuat profil bisnis Moratel melalui peningkatan skala usaha, perluasan jangkauan geografis, serta penguatan kapabilitas strategis, operasional, dan teknis. Selain itu, merger juga membuka peluang dukungan finansial dan operasional dari struktur grup yang lebih besar.

Kemudian, lembaga pemeringkat menilai aksi korporasi tersebut dapat menimbulkan perubahan pada metrik keuangan dalam jangka pendek, terutama dari sisi peningkatan leverage secara konsolidasian.

Pefindo menyatakan peringkat Moratel berpotensi dinaikkan apabila penggabungan usaha tersebut menghasilkan penguatan yang material dan berkelanjutan terhadap profil bisnis maupun keuangan perseroan. Indikasi dukungan kuat dari grup usaha baru yakni, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), juga dapat menjadi faktor pendorong kenaikan peringkat.

Sebaliknya, peringkat dapat diturunkan apabila realisasi pendapatan atau EBITDA perseroan jauh di bawah target, atau jika struktur permodalan dan perlindungan arus kas mengalami pelemahan.

Sebagai informasi, Moratel merupakan penyedia infrastruktur dan layanan telekomunikasi. Hingga 30 September 2025, komposisi pemegang saham perseroan terdiri dari PT Candrakarya Multikreasi sebesar 40,83%, PT Gema Lintas Benua sebesar 30,17%, PT Smart Telecom sebesar 18,32%, dan publik sebesar 10,68%.

MORA merger dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), entitas fiber optik milik Sinarmas Group melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA). Dalam skema tersebut, MORA akan menjadi entitas yang bertahan dan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk, dengan potensi dilusi saham hingga 50,5 persen.

Berikut rincian pemegang saham utama setelah merger (diperkirakan per semester I-2026) yakni, PT Innovate Mas Utama (Grup Sinarmas) sebesar 48,36% (Pengendali Baru), PT Candrakarya Multikreasi (Farida Bau) sebesar 17,81%, PT Gema Lintas Benua (Galumbang Menak) sebesar 14,93%, PT Innovate Mas Indonesia (Grup Sinarmas) sebesar 1,16%, PT DSST Mas Gemilang (Grup Sinarmas) sebesar 0,96%, dan Publik sebesar 16,74%.(*)