EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergerus pada perdagangan Kamis (1/10) pagi. Data real-time Google/Bloomberg pukul 10.00 WIB menunjukkan mata uang Garuda tertekan hingga berada di level Rp17.941 per USD.

Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 47 poin atau sekitar 0,26 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan Rabu (30/9) yang berada di level Rp17.894 per USD. Sementara itu, data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat berada di level Rp17.877 per USD pada penerbitan terakhir Rabu (30/9) sore.

Laporan transaksi pasar spot mencatat pergerakan rupiah melaju di rentang Rp17.888 hingga Rp17.948 per USD sejak pembukaan perdagangan pagi.

Pelemahan rupiah pada sesi pagi ini terutama dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 5,3 persen. Melambungnya yield obligasi AS ini memicu penguatan Indeks Dolar AS serta meningkatkan ketidakpastian pasar terkait ekspektasi ketatnya kebijakan moneter Federal Reserve.

Selain itu, tingginya harga minyak mentah dunia serta meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh para importir domestik turut memperberat tekanan terhadap mata uang rupiah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran meluasnya risiko aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan berkembang, termasuk Indonesia.(*)