Dolar dan Yield Melejit, Pasar Waspadai Risiko Capital Outflow
:
0
Pasar keuangan Indonesia harus mewaspadai lonjakan risiko aliran modal keluar (capital outflow) seiring melejitnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat dan penguatan dolar. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Pasar keuangan Indonesia harus mewaspadai lonjakan risiko aliran modal keluar (capital outflow) seiring melejitnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat dan penguatan dolar. Kondisi ini berpotensi mempersempit selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN), menekan nilai tukar Rupiah, serta meningkatkan biaya pinjaman pemerintah domestik.
Berdasarkan data laporan Trading Economics pada Kamis (1/10), yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun diperdagangkan mendekati 5,3 persen. Di saat bersamaan, yield tenor 30 tahun berada di sekitar 5,64 persen. Kedua angka tersebut menjadi level tertinggi sejak tahun 2002 di tengah kekhawatiran bahwa inflasi yang dipicu sektor energi dapat memicu kebijakan moneter yang lebih ketat.
Laporan Trading Economics mencatat bahwa pasar kini memperhitungkan sekitar 38 persen probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober. Angka ini mengalami penurunan dari posisi 51 persen sebelum rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE).
Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga terjadi setelah data yang dirilis pada Rabu (30/9) menunjukkan indeks harga PCE AS naik 0,3 persen pada Agustus, di bawah estimasi 0,4 persen. PCE inti juga naik 0,2 persen, di bawah perkiraan 0,3 persen. Pelaku pasar kini menanti laporan klaim pengangguran mingguan pada Kamis (1/10) dan data pekerjaan September pada Jumat (2/10).
Selain inflasi energi, pasar obligasi AS dibebani oleh kondisi fiskal yang memburuk, lonjakan utang pemerintah AS, dan aksi beli kembali obligasi yang lebih lemah dari perkiraan. Harga minyak dunia juga tetap tinggi akibat minimnya kemajuan negosiasi antara AS dan Iran meskipun aliran dana Timur Tengah mulai pulih.
Tekanan di pasar obligasi mendorong Indeks Dolar melonjak hingga sekitar 101,5 pada Kamis (1/10), mendekati posisi tertingginya sejak April 2025. Perkembangan ini memperkuat tekanan terhadap stabilitas arus modal dan nilai tukar di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.(*).
Related News
Badai Yield Obligasi AS Tekan Harga Emas Global Hingga Antam
AS Tekan Kelebihan Kapasitas Baja, Ekspor RI Waspadai Tarif
PMI Manufaktur RI Bangkit ke 52,4, Salip 3 Negara ASEAN
Terpapar El Nino, Industri Minuman Cetak Kinerja Tertinggi
Kemendag Pangkas HPE Emas 3,5 Persen Akibat Naiknya Yield
Yield AS Melonjak, Harga Emas Tergerus ke USD4.150





