EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup bervariasi mayoritas menguat tipis. Dow Jones berakhir di zona merah seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah. Kemudian, harga minyak mentah bertahan di atas level USD100 per barel.

Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun kembali naik 6 bps menjadi 5,006 persen setelah sehari sebelumnya sempat turun ke bawah level 5 persen usai menyentuh level tertinggi sejak Juli tahun 2007. Harga minyak mentah jenis WTI turun 1,58 persen menjadi USD100,30 per barel, dan Brent susut 0,91 perse menjadi USD103,87 per barel.

Penguatan mayoritas indeks bursa Wall Street, loncatan harga beberapa komoditas seperti timah, emas, dan tembaga diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Aksi jual masif investor asing berpeluang menjadi katalis negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi rebound.

Sepanjang perdagangan Senin, 21 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.385-6.330, dan resistance 6.500-6.555. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Dharma Satya (DSNG), Hartadinata (HRTA), Archi (ARCI), Merdeka Copper (MDKA), Mitra Adiperkasa (MAPI), dan Timah (TINS). (*)