DSSA Beber Penyebab Saham Terjun Bebas
Petugas tengah mengecek panel surya besutan perseroan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) terjun bebas. Periode 12-17 Maret 2026, saham emiten pangkalan data Grup Sinarmas tersebut terpangkas 20 persen. Susut 15.125 poin menjadi Rp60.475 per lembar dari edisi sebelumnya Rp75.600.
Fluktuasi saham perseroan itu, mendapat sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI). Operator pasar modal tersebut mengulik latar dari turbulensi saham di luar kebiasaan itu. Pasalnya, sebagai salah satu pemilik kapitalisasi pasar tidak sedikit, ikut menjadi penentu naik turun indeks harga saham gabungan (IHSG).
Merespons itu, perseroan mengklaim pergerakan harga saham beberapa waktu terakhir, termasuk edisi 12-17 Maret 2026, dipengaruhi peningkatan sentimen geopolitik global, termasuk eskalasi ketegangan antar-negara, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, volatilitas harga komoditas, dan nilai tukar.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk melakukan aksi jual pada perdagangan saham BEI. Efeknya, meningkatkan aktivitas perdagangan, dan memberikan tekanan jual pada saham-saham di BEI. Dampak fluktuasi itu, tidak hanya terbatas pada saham perseroan, tetapi juga pada harga saham emiten lainnya.
Kondisi itu, menyebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari 7.362,12 pada 12 Maret 2026 menjadi 7.106,84 pada 17 Maret 2026. Perseroan memandang pergerakan harga tidak disebabkan perubahan fundamental maupun adanya fakta material bersifat spesifik, melainkan lebih dipengaruhi faktor eksternal di luar kendali perseroan.
”Sepanjang pengetahuan perseroan, tidak ada aktivitas mengakibatkan kepemilikan atau perubahan kepemilikan saham anggota direksi, dewan komisaris, pihak baik langsung maupun tidak langsung memiliki saham paling sedikit 5 persen, dan/atau pihak pengendali, yang dilaporkan kepada perseroan, dan wajib dilaporkan kepada OJK sesuai P??K 11/2017 sebagaimana telah digantikan dengan POJK No. 4 tahun 2024,” tegas David Fernando Audy, Direktur Dian Swastatika.
Saat ini, perseroan dan anak usaha tengah menggeber sejumlah aksi korporasi. Antara lain stock split dengan rasio 1:25, dan sudah mengantongi restu investor. Lalu, merger Eka Mas Republik, dengan merek dagang MyRepublic, dengan Mora Telematika Indonesia (MORA), dan telah memperoleh persetujuan para pemodal.
Selain itu, perseroan juga akan menindaklanjuti inisiatif strategis agar berkontribusi positif terhadap kinerja ke depan. Inisiatif strategis itu sebagai berikut. Melalui anak usaha memenangkan lelang pita frekuensi 1,4 GHz Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) regional 2 meliputi Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara, dan regional 3 yaitu Kalimantan dan Sulawesi bersama.
Melalui entitas anak, secara resmi melakukan kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, entitas anak Energy Development Corporation -produsen energi baru dan terbarukan terbesar Filipina- entitas anak First Gen Corporation, untuk mengembangkan proyek panas bumi. Inisiatif itu, mencerminkan penguatan portofolio bisnis bidang energi baru terbarukan. (*)
Related News
Kapok Boncos, BRNA Catat Laba Melonjak 160,94 Persen
ENVY Ungkap Aksi Korporasi Baru
Defisit Susut, Laba SIPD Melambung 783,13 Persen
Sepanjang 2025 Laba CYBR Terbang 8.352 Persen
Cum Date Usai, Mantan Bos BBCA Bakal Raup Dividen Rp10,06 Miliar
Lakoni Episode Negatif, Emiten Sri Tahir (SRAJ) Defisit Rp747 Miliar





