EmitenNews.com - Dinamika kekayaan antara Prajogo Pangestu dan Hartono bersaudara per 20 Januari 2026 mencerminkan pertarungan sengit antara agresivitas ekonomi baru dan stabilitas ekonomi lama. Sebagai pembanding, kekayaan gabungan Budi dan Michael Hartono tercatat berada di level stabil pada kisaran 48 miliar dolar AS, yang didukung oleh arus kas kuat dari sektor konsumsi dan perbankan. Selisih sebesar 38 miliar dolar AS yang sempat terjadi sebelumnya menunjukkan betapa agresifnya apresiasi pasar terhadap sektor energi hijau, sebelum akhirnya fluktuasi harga saham membawa nilai kekayaan Prajogo kembali bersinggungan dengan level kekayaan keluarga Hartono.

Fenomena ini menonjolkan karakteristik kekayaan berbasis ekuitas, atau kekayaan di atas kertas (paper wealth), yang sangat sensitif terhadap sentimen pasar pada sektor energi terbarukan melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi standar emas dalam preservasi modal melalui strategi likuiditas yang sangat konservatif. Artikel ini membedah apakah aksi pembelian kembali (buyback) saham oleh Prajogo merupakan sinyal kepercayaan fundamental atau sekadar upaya menjaga valuasi di tengah risiko suku bunga yang membayangi infrastruktur hijau.

Volatilitas Kekayaan dan Sinyal Balik Pengendali

Koreksi kekayaan Prajogo Pangestu yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi pengingat akan adanya diskon tata kelola (governance discount), yaitu penurunan nilai pasar karena persepsi risiko investor terhadap pengelolaan perusahaan, yang sering kali melekat pada emiten dengan tingkat volatilitas tinggi. Menanggapi tekanan pasar tersebut, Prajogo terpantau melakukan aksi beli secara masif pada 15 Januari 2026, mencakup 3 juta saham BRPT, 3,5 juta saham CUAN, dan 1 juta saham BREN. 

Berbeda dengan Prajogo yang kekayaannya sangat bergantung pada valuasi ekuitas yang dinamis, Hartono bersaudara memiliki basis kekayaan yang lebih terdiversifikasi dengan nilai total sekitar 48 miliar dolar AS. Stabilitas angka ini menjadi jangkar pembanding yang memperlihatkan bahwa meskipun Prajogo mampu melesat jauh di atas mereka saat pasar bergairah (bullish), ketahanan aset 'Ekonomi Lama' milik keluarga Hartono tetap menjadi standar stabilitas kapital di Indonesia.

Langkah ini secara sokratik memicu pertanyaan bagi investor mengenai apakah intervensi langsung dari pemegang saham pengendali ini cukup untuk menopang valuasi yang sudah terlampau premium, ataukah ini merupakan pengakuan tersirat akan rapuhnya kekayaan di atas kertas di tengah rendahnya porsi saham publik atau low free float. Aksi ini mensinyalkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga, namun sekaligus menegaskan risiko konsentrasi aset yang sangat bergantung pada narasi transisi energi daripada realisasi laba bersih jangka pendek.

Ambisi Geotermal di Balik Mesin Ekspansi yang Agresif

Berdasarkan laporan audit tahun 2024 dan paparan publik 2025, BREN menunjukkan model bisnis infrastruktur hijau yang memiliki margin operasional luar biasa namun sangat padat modal. Perusahaan mencatatkan margin EBITDA, yakni pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi yang menggambarkan arus kas operasional, yang melampaui angka 80 persen. Angka tersebut mencerminkan efisiensi tinggi dalam operasional panas bumi. Namun, struktur modal perusahaan sangat bergantung pada daya ungkit utang atau leverage, dengan liabilitas yang mencapai 2,9 miliar dolar AS per akhir 2024. 

Tingginya beban bunga akibat utang akuisisi sering kali menggerus laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham. Hal ini menciptakan dilema fundamental bagi investor, di mana kepercayaan pada target kapasitas 1.941 megawatt pada tahun 2030 harus dikompensasi dengan kesediaan menerima risiko keuangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan energi konvensional.

Benteng Konservatisme di Tengah Penumpukan Likuiditas

Berlawanan dengan strategi ekspansif grup Barito, laporan tahunan 2024 dan data publikasi November 2025 dari BBCA menunjukkan filosofi manajemen yang memprioritaskan keamanan absolut. Bank ini memiliki struktur dana murah atau Current Account Savings Account (CASA), yakni proporsi tabungan dan giro yang mencapai 81,5 persen dari total dana pihak ketiga, sehingga memberikan keunggulan biaya dana yang tak tertandingi. 

Namun, ditemukan anomali berupa penebalan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yaitu dana cadangan untuk mengantisipasi kredit macet, sebesar 92,6 persen pada tahun 2024. Penebalan ini tetap dipertahankan meski rasio kredit berisiko atau Loan at Risk (LAR) membaik ke level 5,3 persen. BCA terlihat lebih memilih untuk menjaga keamanan dengan memarkir likuiditas sebesar 436,5 triliun rupiah pada instrumen surat berharga daripada mengejar pertumbuhan kredit yang agresif namun berisiko. Strategi ini memastikan bahwa kekayaan keluarga Hartono memiliki basis yang jauh lebih stabil dan tahan terhadap guncangan pasar modal dibandingkan dengan valuasi dinamis di sektor energi hijau.

Dialektika Valuasi di Tengah Pertumbuhan Hijau dan Stabilitas Keuangan

Perbedaan fundamental ini tercermin pada dinamika rasio harga terhadap laba atau Price-to-Earnings Ratio (P/E), di mana BREN sering kali dihargai di atas seratus kali lipat dari labanya, sedangkan BBCA tertahan pada rentang stabilitas dua puluh hingga tiga puluh kali. Pasar saat ini memberikan premi harapan yang sangat besar bagi transisi energi Indonesia, memperlakukan BREN sebagai opsi beli (call option) atas masa depan energi nasional. Namun, stagnasi penyaluran kredit pada data bulanan November 2025 milik BCA memberikan peringatan bahwa ekonomi riil mungkin belum bergerak secepat narasi pasar modal. Pertarungan antara kedua raksasa ini mencerminkan pilihan investor antara mengikuti arus modal global yang menuju prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) atau tetap berpegang pada mesin transaksi perbankan yang telah teruji lintas krisis.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi.