EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan pasar spot Rabu pagi (30/9/2026). Berdasarkan data konversi real-time Google per pukul 10.30 WIB, rupiah berada di level Rp17.899 per dolar AS.

Mata uang Garuda mencatatkan kenaikan sebesar 82 poin atau menguat sekitar 0,46 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan pada Selasa (29/9/2026) yang berada di level Rp17.981 per dolar AS. Sejalan dengan data tersebut, pergerakan Bloomberg hingga pukul 09.21 WIB juga mengonfirmasi posisi rupiah di kisaran Rp17.899 per dolar AS.

Penguatan rupiah pada pagi ini ditopang oleh melandainya harga minyak mentah global setelah sempat memicu kekhawatiran inflasi energi. Penurunan harga minyak dunia membantu mengurangi potensi lonjakan beban impor komoditas energi nasional, sehingga memberikan sentimen positif bagi pergerakan mata uang domestik.

Selain didorong faktor minyak mentah, rupiah memanfaatkan momentum rebound teknikal setelah sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada sesi perdagangan sebelumnya.

Meski bergerak menguat, laju rupiah masih tertahan oleh kuatnya indeks dolar AS serta tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury). Ekspektasi arah kebijakan moneter ketat (hawkish) dari Federal Reserve juga masih membayangi pergerakan arus modal di pasar keuangan negara berkembang.

Bank Indonesia (BI) terus memantau dan menjaga stabilitas nilai tukar melalui langkah intervensi di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengawal volatilitas rupiah.

Penguatan rupiah pada pertengahan pekan ini memberikan ruang napas bagi pasar keuangan domestik sekaligus menekan risiko imported inflation dalam jangka pendek.(*)