EmitenNews.com - Eskalasi perang Amerika Serikat vs Iran makin memanas. Belum ada tanda-tanda perang akan segera berakhir. Bahkan, jual beli serangan udara makin memuncak menyusul penutupan Selat Hormuz.

Efek domino eskalasi aksi militer tersebut tidak sekadar melambungkan harga minyak dunia. Seluruh entitas bisnis yang ada dengan hubungan Selat Hormuz terkena getahnya. Tidak kecuali emiten lokal yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia yaitu Wilmar Cahaya (CEKA). 

Akibat penutupan Selat Hormuz tersebut, harga minyak bumi mengalami kenaikan. Akibatnya, antara lain berdampak pada peningkatan harga bahan baku crude (CPO) palm oil, dan bahan baku palm kernel hampir 10 persen dari harga sebelumnya. ”Itu berdampak pada peningkatan harga bahan pembantu, dan biaya logistik,” tukas Emmanuel Dwi Iriyadi, Corporate Secretary Wilmar.

Kecamuk perang itu, berdampak terhadap kegiatan operasional. Yaitu, perseroan membutuhkan biaya lebih banyak. Antara lain, untuk pembelian bahan baku crude palm oil dan bahan baku palm kernel, untuk pembelian bahan pembantu dan pembayaran biaya logistik.

Gejolak geopolitik Timur Tengah menyusul aksi militer akhir Februari 2026, menyebabkan ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan energi global. Volatilitas harga komoditas dan energi global, gangguan rantai pasokan, dan logistik global, ketidakpastian makroekonomi lebih luas mempengaruhi permintaan pelanggan.

Volatilitas pasar valuta asing, dan pasar keuangan, akan berdampak pada perseroan. Meski perseroan tidak memiliki operasi langsung signifikan di negara-negara terlibat konflik itu, tetapi dampak ekonomi lebih luas dapat mempengaruhi operasi, dan kinerja keuangan perseroan secara tidak langsung. 

Perseroan saat ini, masih memonitor perkembangan penutupan Selat Hormuz, dan menilai potensi dampak pada periode pelaporan berikutnya. (*)