Ekspor Anjlok, Impor Melonjak, Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar
:
0
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026. Angka itu berbalik dari surplus USD 4,30 miliar. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026. Angka itu berbalik dari surplus USD 4,30 miliar pada Mei 2025 dan meleset dari ekspektasi pasar yang memproyeksikan surplus USD 1,2 miliar.
BPS menyebut Mei 2026 menjadi defisit perdagangan pertama sejak April 2020. Penyebabnya adalah ekspor yang turun secara tak terduga dan impor yang melonjak.
Ekspor Anjlok 5,73 Persen
Ekspor Indonesia Mei 2026 turun 5,73 persen secara tahunan menjadi USD 23,20 miliar. Capaian itu berbalik dari kenaikan 21,98 persen pada April 2026, yang merupakan pertumbuhan terkuat sejak Agustus 2022.
Penurunan Mei juga bertentangan dengan perkiraan pasar sebesar kenaikan 6,4 persen. Ini merupakan penurunan ekspor kedua pada 2026 dan penurunan paling tajam sejak November.
Ekspor non-minyak dan gas tercatat USD 22,45 miliar atau turun 4,50 persen secara tahunan. Pada April, ekspor nonmigas masih tumbuh 23,26 persen.
Impor Naik 22,16 Persen
Di sisi lain, impor Indonesia Mei 2026 naik 22,16 persen secara tahunan menjadi USD 24,81 miliar. Angka itu di atas ekspektasi pasar 19,5 persen, tetapi sedikit melambat dibanding pertumbuhan April yang 22,49 persen.
BPS mencatat pertumbuhan impor yang kuat didorong upaya pemerintah mendukung permintaan domestik dan harga minyak yang lebih tinggi.
Untuk gambaran sebelumnya, total nilai impor April 2026 mencapai USD 25.213,7 juta. Rinciannya, migas USD 4.598,6 juta dan nonmigas USD 20.615,1 juta dengan porsi masing-masing 18,24 persen dan 81,76 persen.
Related News
Emas Antam Naik Rp2.000 per Gram Jelang Rilis Data Inflasi AS
Kesepakatan Diesel Rusia-AS Dorong Kenaikan Harga Emas
Dolar AS Menguat Akibat Blokade Selat Hormuz
Wall Street Menguat Jelang Rilis Pendapatan Bank Besar
Serangan Bandara Riyadh Dorong Minyak Brent Naik ke USD105
Analis Ungkap Kinerja Perpajakan Jadi Angin Segar Kesehatan Fiskal RI





