EmitenNews.com - Harga emas dan perak dunia terkoreksi pada perdagangan Jumat (2/10) dan berada di jalur penurunan mingguan. Pelemahan dua logam mulia ini tertekan oleh penguatan nilai tukar dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (yield) di tengah lonjakan harga minyak global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (2/10), harga emas turun ke level sekitar USD4.150 per ons dan menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut. Pada saat yang sama, harga perak merosot ke kisaran USD60,5 per ons dengan potensi kehilangan hampir 6 persen sepanjang pekan ini.

"Para pembuat kebijakan mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk menentukan apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan," kata Wakil Ketua Federal Reserve Philip Jefferson dalam keterangannya pada Kamis (1/10).

Pelemahan harga logam mulia global ini turut memengaruhi pergerakan harga emas batangan domestik serta sentimen pasar komoditas di Indonesia. Tekanan terhadap aset aman (safe haven) terjadi seiring menguatnya mata uang AS dan tingginya yield US Treasury saat investor menanti rilis laporan ketenagakerjaan AS periode September.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh rencana AS mempertimbangkan pengerahan kapal induk tambahan dan 10.000 tentara ke Timur Tengah. Langkah militer tersebut memicu kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik dengan Iran yang dapat mengganggu pasokan energi regional serta memicu kembali tekanan inflasi global.

Saat ini pasar keuangan memperkirakan sekitar 75 persen probabilitas bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada bulan ini. Kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam memetakan portofolio investasi.(*)