EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan di bawah level USD4.150 per ons dan tertahan di dekat posisi terendah dalam dua bulan pada Selasa (6/10). Penekanan harga logam mulia ini dipicu oleh penguatan mata uang dolar AS serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (6/10), tekanan dari dolar AS dan imbal hasil obligasi berhasil mengimbangi sentimen positif yang berasal dari rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah serta melandainya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve pada Oktober 2026.

Penguatan dolar AS dipengaruhi oleh pelemahan mata uang euro di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan kekhawatiran kondisi fiskal di Eropa. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level tertinggi baru dalam 24 tahun akibat berlanjutnya aksi jual obligasi global yang didorong oleh meningkatnya risiko fiskal serta kekhawatiran inflasi.

Laporan Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa tekanan biaya di sektor jasa AS meningkat dengan laju tercepat dalam lebih dari empat tahun pada bulan lalu. Kendati demikian, pasar memperkirakan adanya probabilitas sekitar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini setelah rilis data penyerapan tenaga kerja berada di bawah estimasi.

Di pasar komoditas lainnya, harga minyak mentah mengalami penurunan seiring adanya indikasi peningkatan pasokan dari Timur Tengah, yang membantu meredakan kecemasan pasar terkait inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.

Dinamika pergerakan harga emas global, penguatan dolar AS, dan imbal hasil obligasi ini menjadi fokus perhatian para pelaku pasar modal dan investor di Indonesia. Pergerakan instrumen logam mulia dunia tersebut memberikan arah sentimen bagi penetapan harga emas batangan domestik serta pergerakan nilai tukar rupiah di pasar valuta asing.(*)