EmitenNews.com - IHSG hari ini berpotensi kembali terkoreksi untuk menguji level support flow 6.188-6.200 seiring dengan masih melemahnya rupiah yang terdampak oleh semakin dekatnya indeks dolar untuk menembus level psikologis 101 atau tertinggi dalam enam minggu terakhir.

Indeks dolar (DXY) pada jam 06.32 berada dikisaran 100,900 setelah Ketua The Fed Kevin Warsh beberapa waktu lalu menyatakan pendapat yang hawkish yang diartikan oleh pasar sebagai akan adanya kenaikan suku bunga acuan susulan pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 Oktober.

Selain itu, pasar juga memantau yield (ongkos meminjam/borrowing cost) surat utang pemerintah AS bertenor dua, 10, 30 tahun yang naik ke level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield ini dapat diartikan bahwa pasar meminta premi yang lebih tinggi karena supply surat utangnya semakin melimpah sementara kemauan politik untuk mengontrol defisit hampir tidak ada. Sebagai catatan, defisit di AS sudah mencapai diangka 2 triliun dolar (sekitar 35,8 ribu triliun rupiah) dengan utang pemerintah menembus angka 40 triliun dolar.

Kenaikan yield di AS sedikit banyak akan berpengaruh kepada daya tarik SBN (surat berharga negara) pemerintah Indonesia yang berpotensi melemah karena diferensiasi yield yang semakin menyempit. Sebagai catatan, yield Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun berada dikisaran antara 7,05% dan 7,15% dibandingkan surat utang pemerintah AS (treasury yield) bertenor 10 tahun pada jam 06.52 diposisi 5,201%.

Rupiah dipasar spot NDF pada jam 06.45 berada dikisaran 17.958 per satu dolar AS atau melemah dari posisi Jumat pagi di 17.900. Namun, rupiah juga masih sangat rentan terkena koreksi lanjutan jika indeks dolar terus menguat. Kondisi ini berpotensi membuat capital outflow akan terus terjadi dan juga dapat berdampak kepada harga komoditas yang semakin mahal dalam USD sehingga dapat menurunkan demand.

Bank Indonesia minggu lalu menahan suku bunga acuan di 5,75%, namun dengan potensi indeks dolar menguat terus, maka alat pengaman rupiah hanya ada dikekuatan cadangan valuta asing yang per Agustus berada pada posisi 146,5 miliar dolar atau cukup untuk membiayai impor selama 4,5 bulan. Jika cadangan valas digunakan terus untuk intervensi rupiah, maka kemampuan Indonesia untuk membiayai impor akan semakin berkurang.

Jadi, kami tetap mengimbau untuk disiplin menjaga cash dan tetap berhati-hati dalam mengambil posisi beli atau "cut loss", terutama jika ditujukan untuk investasi jangka pendek (short-term investment).

Disisi lain, kenyataan bahwa harga minyak mentah masih saja berada dilevel jauh diatas asumsi APBN 2026 pada angka 70 dolar per barel juga dikhawatirkan berpotensi semakin melebarkan defisit fiskal yang dipatok dilevel 3,0% di Undang-Undang Keuangan Negara.

Harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi patokan penetapan harga BBM dalam negeri pada jam 06.49 berada dikisaran 98,62 dolar per barel atau melemah 7,6% dari 106,77 dolar per barel Jumat pagi. Penurunan harga minyak mentah sejatinya dapat menjadi katalis positif untuk menahan kejatuhan IHSG.

Harga emas pada jam 06.50 berada diangka 4.260 dolar per ons vs 4.270 dolar per ons Jumat pagi.