EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan di kisaran USD4.150 per ons pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Penguatan aset aman ini didorong oleh pelemahan bursa saham global serta meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Aksi jual pada pasar saham memaksa pelaku pasar mengalihkan dana ke instrumen berisiko rendah seperti obligasi pemerintah dan logam mulia. Kondisi tersebut menekan imbal hasil obligasi turun tajam, sehingga mengurangi beban biaya peluang bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

"Emas didukung oleh permintaan sebagai aset aman," tulis laporan Trading Economics yang dikutip pada Jumat (16/10/2026).

Permintaan terhadap emas makin solid menyusul meningkatnya permusuhan antara Arab Saudi dan pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman. Selain itu, sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dilaporkan tenggelam di Selat Hormuz pada pekan ini akibat terkena proyektil Iran.

Meningkatnya risiko distribusi pasokan di jalur perdagangan internasional tersebut memperkuat daya tarik emas bagi investor global. Bagi pasar keuangan Indonesia, pergerakan emas dunia ini kerap menjadi acuan arah harga emas batangan domestik serta memengaruhi arus modal investor di pasar modal.

Di sisi lain, pelaku pasar terus mencermati prospek kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Rangkaian data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan telah memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.

Saat ini pasar memperkirakan peluang sekitar 72 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada bulan ini. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember meningkat hingga 92 persen.(*)