EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil pada awal perdagangan Senin, 22 Juni 2026, namun beranjak menguat tipis 0,35% di awal sesi.

Berdasarkan data RTI Business pukul 09.03 WIB, IHSG parkir di level 6.198,482, naik 21,342 poin. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.226,717  setelah dibuka di 6.217,049.

Nilai transaksi tercatat Rp983,157 miliar dengan volume perdagangan 1,233 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai 115.743 kali. Market cap Bursa Efek Indonesia berada di posisi Rp10.876,885 triliun.

Pergerakan saham terpantau berimbang. Sebanyak 237 saham menguat, 235 saham melemah, dan 208 saham stagnan.

Grafik intraday menunjukkan IHSG sempat terkoreksi tajam di awal sesi ke area 6.156 sebelum berbalik arah menguat ke atas 6.190.

Dalam riset harian Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada Senin (22/6) mencatat penguatan IHSG pada Jumat sebelumnya ditopang saham MORA dan BBCA, meski dibayangi net outflow asing Rp3,1 triliun di pasar reguler.

Arus keluar terbesar terjadi pada saham konglomerasi seperti AMMN, DSSA, dan TPIA, mencerminkan aksi profit taking dan rotasi dana asing. Sementara itu, BBCA justru mengalami net inflow asing sejak awal Juni, menandakan selective buying pada bank berfundamental kuat.

Head of Research MASI, Rully Arya Wisnubroto menilai adanya, "(Indikasi) sikap wait-and-see investor global terhadap perkembangan eksternal, khususnya arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan yield US Treasury."

Secara teknikal, Senior Analyst MASI, Muhammad Nafan Aji melihat momentum IHSG masih terjaga dengan support 6.058 dan 5.917, serta resistance 6.287 dan 6.516. Untuk pekan ini, pasar menanti hasil MSCI classification review 24 Juni 2026.

Senior Analyst MASI, Wilbert Arifin memperkirakan Indonesia tetap mempertahankan status Emerging Market, yang jika terkonfirmasi dapat mengangkat overhang pasar dan membuka jalan pemulihan lebih berkelanjutan.