EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat ke level 6.333 pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026 pukul 09.00 WIB. Penguatan IHSG didorong meredanya risiko geopolitik, turunnya harga minyak, dan apresiasi Rupiah.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG dibuka di 6.333,033 naik 78,067 poin atau 1,25 persen dari penutupan sebelumnya. Pada awal sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.334,536 dan terendah 6.317,932. Level pembukaan IHSG tercatat di 6.321,961.

Volume transaksi pagi ini mencapai 686,329 juta saham dengan nilai Rp684,187 miliar dan frekuensi 63.227 kali. Sebanyak 388 saham menguat, 70 saham melemah, dan 222 saham flat. Market cap IHSG menembus Rp11.056,339 triliun.

Sentimen Positif dari Minyak dan Rupiah  

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyebut relief harga minyak dan tailwind Rupiah jadi penopang pasar. Koreksi harga Brent ke area awal USD80 per barel ikut memangkas risk premium minyak, meredakan kekhawatiran inflasi impor dan beban subsidi energi.

“Apresiasi Rupiah menuju kisaran 17.700 dalam beberapa hari terakhir telah mengurangi tekanan langsung kepada BI untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, terutama setelah kenaikan pre emptive ke 5,50 persen pada awal bulan ini," kata Rully pada Rabu (17/6/2026).

Ke depan, BI diperkirakan tetap sangat bergantung pada data, dengan arah Rupiah dan sentimen risiko global sebagai pemicu utama keputusan kebijakan. Bank sentral kemungkinan akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen untuk mendorong USD/IDR menuju kisaran kenyamanan sekitar 16.800–17.500, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak.

Secara teknikal, Muhammad Nafan Aji dari Mirae Asset Sekuritas melihat upside IHSG masih intact dengan support 6.178 dan 6.058 serta resistance 6.287 dan 6.516.

Bagi Indonesia, penurunan harga minyak menjadi sentimen positif karena berpotensi menekan biaya impor, mengurangi tekanan inflasi, dan menurunkan risiko fiskal, yang turut mendukung penguatan Rupiah dan IHSG, tulis Novani.

Meski sentimen membaik, keberlanjutan penguatan pasar masih bergantung pada implementasi kesepakatan AS–Iran, arah kebijakan The Fed, serta hasil pertemuan FOMC.