EmitenNews.com - Pekan lalu menjadi salah satu fase paling menantang bagi pasar saham domestik sepanjang tahun berjalan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam ke level 6.723. Itu terjadi di tengah kombinasi tekanan global, dan domestik hampir bersamaan.

Narasi utama pasar tidak lagi sekadar soal valuasi atau kinerja emiten, tetapi lebih kepada bagaimana investor global melakukan reposisi portofolio menghadapi perubahan besar pada indeks MSCI. “Keputusan MSCI mengeluarkan saham AMMN, BREN, TPIA, DSSA, AMRT, dan CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama peningkatan tekanan jual pasar domestik,” tutur Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi.

Ia menambahkan investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei 2026, sehingga menciptakan gelombang passive outflow cukup agresif. Tekanan tersebut makin diperberat kondisi global belum kondusif. Pasar kembali menghadapi skenario higher for longer setelah inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali mundur, bahkan sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan akhir tahun. “Situasi ini membuat Dolar AS (USD) terus menguat, dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah sempat menyentuh level terlemah baru Rp17.520 per USD,” imbuhnya.

Ia menjelaskan saat bersamaan, konflik geopolitik Timur Tengah, dan jalur distribusi energi global tergganggu akibat krisis Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam di atas USD105 per barel. “Kombinasi USD kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” tandas Imam.

Meski tekanan pasar terlihat luas, pergerakan sektoral menunjukkan adanya rotasi cukup menarik. Sektor energi menjadi salah satu paling terpukul akibat keluarnya beberapa saham besar dari MSCI, khususnya DSSA dan BREN diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah. Pelemahan sektor itu, lebih bersifat technical driven dibanding penurunan fundamental komoditas. 

Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil sebagai outperformer setelah saham Pelayaran Ekalya (ELPI) melonjak signifikan pasca-aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu. “Pergerakan ini menunjukkan di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action, dan katalis spesifik jelas,” terangnya.

Di pasar komoditas, dinamika geopolitik masih menjadi motor utama pergerakan harga. Harga minyak dunia terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global, sementara batu bara tetap bertahan solid didorong shifting konsumsi energi Asia dari LNG menuju coal akibat konflik berkepanjangan.

Kondisi itu, sebenarnya masih memberikan tailwind bagi emiten batubara domestik. Sementara itu, harga emas mulai mengalami profit taking setelah pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Untuk nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi profit taking dan tingginya inventori global dibanding perubahan fundamental jangka panjang.

Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba menjadi sentimen positif bagi emiten tambang, dan operator smelter karena dapat menjaga margin profitabilitas tetap stabil di tengah volatilitas global. Aliran dana asing selama pekan lalu juga menggambarkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia, melainkan melakukan rotasi secara selektif.