EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dalam fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi. Kendati begitu, masih terdapat peluang technical rebound setelah indeks berhasil bertahan di sekitar level psikologis 6.000.

Seperti diketahui, pada perdagangan kemarin, Jumat (2/10), IHSG berhasil ditutup menguat 0,46 persen ke level 6.036,88 atau naik 27,39 poin.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta mengatakan area 6.000 menjadi support psikologis penting sebagai sinyal pemulihan, karenanya IHSG perlu kembali bergerak konsisten di atas area resistance.

“Untuk pekan depan, saya melihat kisaran 5.900–6.200 masih relevan sebagai area konsolidasi, dengan peluang rebound apabila tekanan jual asing mulai mereda dan rupiah stabil,” kata Nafan kepada EmitenNews, Jumat (2/10) malam.

Sementara itu, Investment Advisor Sucor Sekuritas, Yoser A. Triastomo memiliki proyeksi IHSG sepekan ke depan berpotensi bergerak di dalam area support 5.810-6.010 dengan resistance di area 6.123-6.210.

Meski terdapat kebijakan perdagangan short selling yang diterapkan pada awal Oktober, Yoser menilai hal itu tidak serta merta mempengaruhi indeks yang berkutat di level 6.000, bahkan sempat sentuh level psikologis 5.979,98.

“Terlepas ada short sell atau tidak, market kita memang sepekan ke belakang cukup tertekan. Namun saat ini sudah berada di level psikologis 6.000 dan market closing Jumat (2/10) ditutup menguat di sesi 2 diikuti oleh volume perdagangan harian tertinggi dalam seminggu yang masih didominasi oleh domestic investor,” ujar Yoser.

October Effect

Nafan menuturkan, secara historis terdapat kecenderungan positif di bulan Oktober sepanjang tahun 2016 hingga 2025. Dari rentang tahun tersebut, IHSG menguat delapan dari sepuluh Oktober dengan rata-rata return sekitar 1,16 persen.

Kendati begitu, pemulihan IHSG tidak dapat mengandalkan faktor musiman semata, sebab menurut Nafan faktor yang lebih menentukan adalah stabilitas rupiah di sekitar Rp18.000/US$, arah yield US Treasury, foreign flow, harga minyak, ekspektasi suku bunga The Fed, serta kondisi fiskal domestik.