EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih rawan koreksi pada perdagangan Selasa (29/9). Salah satu penyebabnya yakni tingginya tekanan jual yang terjadi di pasar.

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, pergerakan IHSG telah menutup gap dan angka koreksinya telah mencapai area koreksi sebelumnya.

Dari sudut pandang teknikal, downtrend yang terjadi pada IHSG saat ini masih membentuk bagian dari wave a dari wave (x) pada label hitam.

“Hal tersebut berarti, IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji rentang area 6,088-6,111,” ujar Herditya dalam risetnhya, Selasa (29/9).

Sementara itu, Equity Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T menyebutkan, pelemahan yang terjadi di perdagangan kemarin dan membuat IHSG turun 1,51% ke level 6.147,86 dipicu kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.

Di samping itu, saham sektor teknologi, basic material dan cyclical mengalami pelemahan terbesar. Sedangkan sektor energi dan transportasi mencatatkan kenaikan.

“Secara teknikal, indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan masih ada potensi pelemahan IHSG lebih lanjut setelah ditutup di bawah support 6,200. Diperkirakan IHSG akan menguji level support berikutnya di 6,000-6,100,” katanya.

Merespons ini, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa investor masih cenderung selektif sebelum memilih saham. Ditambah sentimen domestik yang menunjukkan rupiah masih terus melemah hingga level Rp17.970.

Di sisi lain, pelaku pasar juga kini mengalihkan fokusnya untuk mencermati kinerja laporan keuangan kuartal III-2026 yang akan segera dirilis masing-masing emiten.

“Rilis kinerja keuangan yang melampaui atau sesuai ekspektasi pasar berpotensi menahan laju koreksi IHSG sekaligus memicu aksi pembalikan arah atau technical rebound,” tutur Nafan.