EmitenNews.com - Indek bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat. Itu seiring koreksi harga minyak mentah, dan lonjakan saham sektor teknologi meski imbal hasil obligasi pemerintah kembali melanjutkan kenaikan. Harga minyak mentah jenis WTI anjlok 2,33 persen menjadi USD92,41 per barel, dan Brent susut 2,14 persen menjadi USD104,32 per barel.

Penurunan harga minyak mentah itu, terjadi seiring optimisme akan segera pembukaan selat Hormuz setelah Iran meminta Amerika Serikat (AS) untuk kembali menjalankan MoU disepakati kedua belah pihak pada Juni lalu. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 dan 30 tahun kembali mencatat rekor tertinggi sejak 2007 yaitu 5,163 persen, dan 2004 yaitu 5,488 persen.

Sementara itu, di antara saham sektor teknologi  mencatat penguatan, Akamai Technologies menjadi saham dengan penguatan tertinggi 3,20 persen setelah perseroan mengumumkan kesepakatan tahun jamak dengan Anthropic. Lompatan indeks bursa Wall Street, dan harga beberapa komoditas seperti timah, emas serta batu bara diprediksi menjadi sentimen positif pasar. 

Di sisi lain, aksi jual masif investor asing, dan pemberlakuan batas minimal harga Rp1 untuk seluruh saham tercatat di bursa berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.190-6.135, dan resistance 6.290-6.345.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Bukit Asam (PTBA0, BFI Finance (BFIN), Wismilak (WIIM), Triputra Agro (TAPG), Mitra Adiperkasa (MAPI), dan Map Aktif Adiperkasa (MAPA). (*)