EmitenNews.com - Imbal hasil (yield) obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun bertahan sedikit di bawah level 5 persen pada perdagangan Selasa (15/9). Pergerakan imbal hasil acuan di posisi tertinggi sejak 2007 ini memicu kewaspadaan pada pergerakan bursa saham global setelah naik selama empat sesi berturut-turut.

Tekanan pada obligasi pemerintah AS terjadi seiring masih tingginya harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi global. Pelaku pasar keuangan internasional terus merespons dinamika ini menjelang pengumuman keputusan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) pekan ini.

Pergerakan harga minyak yang tinggi turut memperkuat ekspektasi ketatnya kebijakan moneter AS. Kenaikan harga energi dipicu oleh penutupan jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang belum beroperasi kembali.

Mengutip Trading Economics, pasar memperkirakan sekitar 92 persen kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada hari Rabu. Ekspektasi tersebut menguat menyusul rilis data inflasi AS minggu lalu yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Sentimen pasar bursa global makin diperberat oleh perkembangan geopolitik di Eropa Timur, di mana pihak Ukraina membantah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan penghentian serangan infrastruktur energi dengan Rusia.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi jangka panjang turut terdorong naik oleh maraknya aksi korporasi di sektor teknologi. Lonjakan penerbitan utang korporasi dari perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tercatat membatasi alokasi modal dari dealer utama serta lembaga keuangan global lainnya.

Tingginya imbal hasil obligasi AS yang mendekati level 5 persen ini juga patut menjadi kewaspadaan bagi pasar keuangan Indonesia. Ketegangan pada bursa saham global berpotensi memicu pelebaran selisih imbal hasil (yield spread), yang dapat mendorong aksi lepas portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.(*)