EmitenNews.com - Agenda hilirisasi sumber daya alam dan percepatan transisi energi bersih nasional kini resmi disatukan di bawah satu payung koordinasi. Penyatuan kendali ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian energi bagi masyarakat dan dunia usaha di Indonesia.

Integrasi dua program prioritas ini menyasar dampak langsung terhadap pembukaan lapangan kerja, peningkatan penerimaan negara, hingga kepastian pasokan energi nasional. Langkah ini diambil guna merespons dinamika perekonomian global serta tekanan geopolitik dunia yang menuntut percepatan penggunaan energi bersih secara komprehensif dan terukur.

Laporan Kementerian ESDM pada Kamis (1/10) mencatat pernyataan Bahlil Lahadalia terkait alasan utama penggabungan dua agenda strategis tersebut di bawah satu koordinasi.

"Dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu dan konstelasi dinamika ekonomi dunia juga yang menuntut untuk terjadinya energi yang bersih maka Bapak Presiden memandang penting untuk program-program prioritas terkait dengan hilirisasi, terkait dengan transisi energi sebagai komitmen global dari Paris Agreement, maka ini tidak bisa dilakukan dengan cara parsial tapi harus dilakukan dengan komprehensif, terukur," kata Bahlil dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM.

Sebelum integrasi ini berjalan, Bahlil memimpin Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional untuk memetakan proyek prioritas sebelum tahap implementasi. Selain itu, pada Maret 2026, ia juga ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi guna menggenjot pengembangan pembangkit listrik tenaga surya serta energi baru terbarukan.

Dengan skema satu pintu, koordinasi seluruh program strategis sektor energi dan sumber daya alam Indonesia diharapkan mampu berjalan lebih efektif mulai dari penyiapan proyek hingga eksekusi di lapangan.(*)