Jengah Dikaitkan dengan Hary Tanoe, IATA Sodorkan Fakta ini
:
0
Armada Karya Pacific siap mengangkut batu bara milik perseroan. Foto - Dok Karya Pacific
EmitenNews.com - Karya Pacific Energy (IATA) masih dikaitkan dengan Hary Tanoesoedibjo. Pasalnya, sejak 22 Juni 2026, IATA sudah tidak bernama MNC Energy Investment. Artinya, IATA sudah lepas, bebas, dan tidak lagi menjadi bagian MNC Group.
Saat ini, Karya Pacific Investama merupakan pemegang saham dengan kepemilikan utama perseroan. Dengan demikian, Karya Pacific Energy saat ini dimiliki PT Karya Pacific Investama, dan bukan oleh Hary Tanoesoedibjo maupun MNC Group.
”Oleh karena itu, penggunaan penyebutan “emiten Hary Tanoe” sudah tidak mencerminkan kondisi kepemilikan perseroan yang berlaku saat ini,” tegas Andi Tenri Dala F, Corporate Secretary Karya Pacific Energy.
Ya, IATA bebas dari bayang-bayang MNC Group. Berganti pengendali, dan tidak lagi menginduk kepada kelompok usaha racikan tangan dingin Hary Tanoesoedibjo. IATA sepenuhnya berada di bawah kendali penuh Karya Pacific Investama. IATA bebas dari cengkeraman MNC Group, setelah MNC Asia Holding (BHIT) membuang habis 1,79 miliar saham IATA dengan kisaran Rp59-60.
Menyusul divestasi saham setara 5,74 persen itu, mantan pengendali lawas IATA tersebut mengoleksi dana taktis senilai Rp107,73 miliar. Aksi divestasi dirayakan masing-masing pada 21 Juli 2026 ssebanyak 8.475.000 lembar pada Rp59 senilai Rp500 juta. Kemudian, pada 28 Juli 2026, BHIT melego 1,78 miliar dengan harga Rp60 per helai sejumlah Rp107,23 miliar. Dengan penuntasan transaksi itu, BHIT tidak lagi menggenggam saham IATA sehelai pun.
Menyudahi perdagangan kemarin, saham IATA bertengger di level Rp101. Terpangkas 7,34 persen alias 8 poin dari perdagangan hari sebelumnya. Dalam lima hari terakhir, saham IATA melejit 9,78 persen setara 9 poin dari periode 2 Oktober 2026 di level Rp92 per eksemplar.
Kalau dikalkulasi sejak keluar penuh dari MNC Group pada 29 Juli 2026 di level Rp58, saham IATA berarti meroket 74,13 persen alias 43 poin menjadi Rp101. Sepanjang 52 minggu terakhir, saham IATA menyentuh level tertinggi Rp198, dan posisi terendah Rp51. IATA dibalut kapitalisasi pasar Rp2,59 triliun dengan price earning rasio 56,44 kali. (*)
Related News
Ada Rights Issue, BEI Patok Harga Teoretis AHAP ke Rp72
PBSA Stock Split 1:2, Nominal Baru Mulai 14 Oktober
BLTA Bantah Rencana Aksi Korporasi, dan Investasi Strategis
Siap Garap Proyek Baru, ARKO Resmi Dirikan Anak Usaha
MORA Cari Pinjaman Bank Untuk Lunasi Sukuk Rp267,28 Miliar
Indah Kiat (INKP) Terbitkan Utang Baru untuk Pelunasan November 2026





