EmitenNews.com -PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membuktikan ketangguhannya di tengah tantangan makroekonomi dan lesunya daya beli konsumen. Sepanjang semester pertama tahun 2026 (1H26), emiten telekomunikasi BUMN ini berhasil membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid berkat strategi monetisasi bisnis seluler serta optimalisasi aset infrastruktur.

Berdasarkan riset Kiwoom Research yang disusun oleh Senior Equity Analyst Sukarno Alatas, TLKM mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun pada 1H26, tumbuh 3,9% secara year-on-year (YoY). EBITDA tercatat naik 3,8% YoY menjadi Rp37,5 triliun dengan margin EBITDA yang terjaga kuat di level 49,4%.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp10,6 triliun (+1,4% YoY). Namun, jika dilihat dari normalized net profit (laba bersih yang disesuaikan), TLKM melesat 6,2% YoY menjadi Rp11,3 triliun, mencerminkan kualitas laba inti (underlying earnings) yang jauh lebih sehat.

Telkomsel Jadi Motor Utama, ARPU Terus Meningkat

Anak usaha utama Telkom, Telkomsel, masih menjadi tulang punggung pertumbuhan perusahaan. Telkomsel menyumbang pendapatan sebesar Rp55,6 triliun (+3,3% YoY) dan EBITDA Rp26,1 triliun (+8,6% YoY) pada 1H26.

Secara kuartalan (2Q26), Telkomsel menunjukkan kinerja yang sangat positif:

  • Pendapatan 2Q26: Rp28,0 triliun (naik 1,6% QoQ)
  • EBITDA 2Q26: Rp12,5 triliun (naik 5,3% QoQ)
  • Laba Bersih 2Q26: Rp4,7 triliun (melonjak 12,0% QoQ)

Strategi pemulihan harga pasar (market repair) dan disiplin biaya membuahkan hasil. Meskipun jumlah pelanggan seluler sedikit terkoreksi ke angka 153,7 juta (-1,5% QoQ), Average Revenue Per User (ARPU) Telkomsel berhasil naik signifikan dari Rp43,4 ribu pada kuartal I menjadi Rp46,0 ribu pada kuartal II-2026 (+6,0% QoQ). Traffic data (payload) juga meluas 11,6% YoY menjadi 5.758 PB, menegaskan bahwa basis pelanggan Telkom kini jauh lebih berkualitas dan produktif dalam menggunakan data.

Fokus Pada Quality Growth & Bisnis B2B Infrastruktur

Di lini Fixed Broadband (FBB) Indihome, perusahaan melakukan langkah cleansing pelanggan demi mendorong pertumbuhan yang lebih sehat. Dampaknya, jumlah pelanggan FBB disesuaikan menjadi 9,5 juta (-7,9% QoQ). Namun, langkah ini justru meningkatkan ARPU convergence sebesar 3,4% QoQ menjadi Rp211 ribu, serta menaikkan penetrasi Fixed-Mobile Convergence (FMC) dari 59% menjadi 65%.

Di sisi lain, lini B2B Infrastructure menjelma menjadi mesin pertumbuhan baru yang sangat agresif. Lini bisnis ini meraup pendapatan Rp33,1 triliun, melesat 19,0% YoY. Kinerja ini disokong oleh: