EmitenNews.com - Pekan ketiga Juni 2026, Bursa Indonesia akan menghadapi sejumlah agenda krusial yang dinanti pelaku pasar. Di saat yang sama, tercapai kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpotensi kembali membuka Selat Hormuz.

Prospek meredanya konflik di Timur Tengah juga turut membuat pelaku pasar kembali mencermati pasokan energi global. 

“Normalisasi ini diharapkan dapat meredam lonjakan harga minyak mentah dunia dan meredakan risiko inflasi global,” tulis M Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas (MASI) dalam risetnya, Senin (15/6/2026).

Di sisi lain, perdagangan pekan ini hanya berlangsung efektif empat hari, mengingat Bursa akan memasuki masa libur pada Selasa (16/6) dalam rangka memperingati 1 Muharam 1448H.

Nafan juga mengatakan, sejumlah data penting yang akan dirilis dalam sepekan ke depan perlu diantisipasi para pelaku pasar.

Menurutnya, saat ini pelaku pasar cenderung berhati-hati mengantisipasi rilis data makro penting akhir pekan, terutama hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate maupun FOMC Economic Projections, maupun RDG BI dalam rangka pengumuman BI Rate.

“Di sisi lain, para pelaku pasar juga mulai tertuju pada agenda review klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026,” ujarnya.

Lebih lanjut, MSCI Market Accessibility Review diketahui akan dirilis pada 18 Juni, FTSE Rebalancing pada 19 Juni, dan MSCI Market Classification Review pada 23 Juni 2026 yang akan menentukan apakah Indonesia masih berstatus emerging market atau berisiko downgrade menjadi frontier market.

Dengan serangkaian agenda krusial tersebut, Nafan memproyeksikan perdagangan hari ini indeks akan bergerak di area support kisaran 5.917 dan 5.803, sedangkan resistance area di kisaran 6.058 dan 6.178.

Sejumlah saham juga turut direkomendasi MASI, di antaranya ANTM, NCKL, dan TPIA.