Lepas dari Hary Tanoe, Ledakan Saham IATA Tidak Terbendung
:
0
Ladang pertambangan batu bara besutan Karya Pacific. FOTO - Dok IATA
EmitenNews.com - Karya Pacific Energy (IATA) bebas dari bayang-bayang MNC Group. Berganti pengendali dan tidak lagi menginduk kepada kelompok usaha busatan tangan dingin Hary Tanoesoedibjo (HT). IATA sepenuhnya berada di bawah kendali penuh PT Karya Pacific Investama.
IATA bebas dari cengkeraman MNC Group, setelah MNC Asia Holding (BHIT) membuang habis 1,79 miliar saham IATA dengan misaran Rp59-60. Dengan divestasi saham setara 5,74 persen itu, mantan pengendali lawas IATA tersebut mengoleksi dana taktis senilai Rp107,73 miliar.
Aksi divestasi dirayakan masing-masing pada 21 Juli 2026 ssebanyak 8.475.000 lembar pada Rp59 senilai Rp500 juta. Kemudian, pada 28 Juli 2026, BHIT melego 1,78 miliar dengan harga Rp60 per helai sejumlah Rp107,23 miliar. Dengan penuntasan transaksi itu, BHIT tidak lagi menggenggam saham IATA sehelai pun.
Performa Keuangan
Setelah tidak berbendera MNC Group bagaimana dengan kinerja IATA? Sepanjang paruh I 2026, IATA mencatat laba USD961,03 ribu. Longsor 82,42 persen dari periode sama tahun lalu USD5,46 juta. Pendapatan usaha USSD33,38 juta, susut 16,46 persen dari USD39,96 juta. Beban langsung USD21,26 juta bertambah dari USD20,36 juta.
Laba kotor USD12,12 juta, anjlok dari USD19,6 juta. Beban penjualan USD2,32 juta, turun dari USD7,41 juta. Beban usaha USD2,89 juta, bertambah dari USD2,11 juta. Beban keuangan USD2,69 juta, naik dari USD2,4 juta. Rugi selisih kurs USD1,93 juta, bengkak dari USD383,52 ribu. Laba bersih tahun berjalan USD596,32 ribu, menciut dari USD5,46 juta.
Jumlah ekuitas USD131,35 juta, mengalami penyusutan dari akhir tahun sebelumnya USD134,87 juta. Total liabilitas USD101,83 juta, berkurang dari akhir 2025 sebesar USD103,45 juta. Jumlah aset USD233,18 juta, juga mengalami penciutan dari episode akhir tahun lalu USD238,33 juta.
Ledakan Brutal Saham IATA
Menyudahi perdagangan kemarin, saham IATA bertengger di level Rp90. Susut 1 poin alias 1,10 persen dari perdagangan hari sebelumnya. Dalam lima hari terakhir atau sejak BHIT menuntaskan transaksi divestasi seluruh kepemilikan, saham IATA melambung 52,54 persen.
Artinya, saham IATA meroket 31 poin dari edisi 29 Juli 2026 di kisaran Rp59. Namun, kalau dikalkulasi sejak awal tahun alias year to date, saham IATA ambruk 46,43 persen atau 78 poin dibanding periode Jumat, 2 Januari 2026 di posisi Rp168 per eksemplar.
Related News
Strategi PGE (PGEO), Dorong Peningkatan Produksi Listrik
Setelah J&T Cargo, Argo Pantes Amankan Kontrak Baru Rp48M Omya Group
Transformasi TelkomGroup Tunjukkan Hasil, Lihatlah Kinerja InfraNexia
IKBI Bakal Bagi Dividen Rp54,23 Miliar, Cek Jadwal Cum Date
BUMI Ungkap Perkembangan Terbaru Akusisi Perusahaan Tambang Australia
Pendapatan SOTS Naik Rugi Bersih Susut, Status Saham Masih HSC





