Meski Net Sell Rp74 Miliar IHSG Tetap Naik 0,85 Persen. 5 Saham Ini Yang Dilepas Asing di Sesi I
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI hingga sesi I perdagangan saham Rabu (2/12) ditutup naik 0,85 persen atau 48.936 poin ke level 5.773.678. Total volume transaksi yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 13,3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 9,04 triliun dengan frekuensi transaksi mencapai 703.501 kali. Sebanyak 258 saham menguat, dan 183 saham turun serta 164 saham lainnya tak mengalami perubahan harga. Seluruh sektor mengalami kenaikan. Sektor yang naik paling tinggi antara lain sektor aneka industri naik 2,31 persen, sektor tambang menguat 2,03 persen, sektor infrastruktur naik1,34 persen dan sektor manufaktur naik 0,99 persen. Namun sayangnya Investor asing masih membukukan penjualan bersih alias net sell di seluruh pasar sebesar Rp 74,4 miliar. Saham- saham yang dijual asing dengan nilai terbesar di sesi I yaitu, PT HM sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp54 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT XL Axiata (EXCL) senilai Rp42 miliar, Bank Negara Indonesia (BBNI) senilai Rp34 miliar dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP senilai 27 miliar. Saham-saham yang yang mengalami kenaikan harga diantaranya GGRM sebesar Rp1.200 menjadi Rp44.200 per lembar dan UNTR sebesar Rp625 menjadi Rp24.800 per lembar serta ITMG sebesar Rp375 menjadi Rp14.175 per lembar. Saham-saham yang mengalami penurunan harga diantaranya SONA sebesar Rp425 menjadi Rp5.800 per lembar dan ABDA sebesar Rp375 menjadi Rp5.600 per lembar serta TGKA sebesar Rp300 menjadi Rp7.550 per lembar. Saham-saham yang teraktif diperdagangkan diantaranya BBKP sebanyak 33.811 kali senilai Rp480,4 miliar dan ANTM sebanyak 26.613 kali senilai Rp735,3 miliar serta GIAA sebanyak 20.089 kali senilai Rp151,04 miliar.
Related News
Di Balik Angka Laba Cimory di Tahun 2025 Part 2, Ini Strategi Salesnya
Cerita Di Balik Angka Laba Cimory di Tahun 2025 Part 1
Program Susu Sekolah MBG jadi Katalisator Ultrajaya Tekan Biaya Iklan
Efek Hormuz dan Prospek Fiskal, Bagaimana Nasib Market Ke Depan?
Transparansi 1 Persen - Titik Buta Pengawasan Pasar: Studi Kasus TPIA
Memaknai Rating Outlook Negatif Fitch dan Moody's untuk Indonesia





