EmitenNews.com - Harga emas dunia mempertahankan kenaikannya dan bertahan di atas level USD4.350 per ons pada perdagangan hari Senin. Tren positif ini melanjutkan penguatan harga komoditas logam mulia tersebut selama dua sesi berturut-turut.

Penguatan harga emas didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi serta prospek kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.

Berdasarkan data dari Trading Economics, harga minyak mengalami penurunan selama empat sesi berturut-turut di tengah meningkatnya upaya diplomasi untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterbukaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) minggu ini, serta merencanakan diskusi dengan para pemimpin Teluk Persia.

Di saat yang sama, para investor tengah mencermati rencana pernyataan dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) pekan ini, menyusul keputusan bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pekan lalu.

Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari menegaskan bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat masih memerlukan perhatian ketat dari otoritas moneter. "Inflasi tetap terlalu tinggi dan tekanan harga telah meluas melampaui guncangan harga minyak awal yang terkait dengan perang Iran," ujar Neel Kashkari pada hari Minggu.

Pergerakan harga emas global serta arah kebijakan suku bunga The Fed ini turut memengaruhi pasar keuangan dan komoditas domestik. Pergerakan harga emas dunia menjadi acuan utama bagi penentuan harga emas batangan Antam di dalam negeri, sekaligus menjadi instrumen lindung nilai (hedging) bagi masyarakat dan investor Indonesia di tengah dinamika inflasi global.(*)