EmitenNews.com - Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi bergerak dalam tekanan pekan depan, bahkan hingga akhir 2026. 

Reza menilai, apabila tekanan jual asing belum mereda dan sentimen MSCI masih membayangi pasar, IHSG berpotensi melanjutkan konsolidasi di area bawah hingga akhir November.

Namun, tanpa adanya katalis positif yang kuat maupun perubahan kondisi secara signifikan, IHSG diperkirakan kesulitan mencatatkan reli akhir tahun atau Santa Claus Rally yang signifikan.

“Bisa bergerak di kisaran 5000-5250 dari level saat ini aja udah lumayan bagus, sambil menunggu kepastian pemulihan likuiditas di awal tahun depan,” ujar Reza kepada EmitenNews.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Reza melihat laporan keuangan emiten periode sembilan bulan pertama 2026 (9M26) dapat menjadi jangkar fundamental bagi pasar.

Secara umum, lanjut Reza, kinerja emiten berkapitalisasi pasar besar, khususnya blue chips, perbankan besar, serta beberapa emiten komoditas dan infrastruktur masih menunjukkan ketahanan fundamental selama sembilan bulan 2026.

“Tentunya kita sebagai pelaku pasar tetap selektif. Laporan keuangan 9M-2026 yang solid (terutama emiten dengan pertumbuhan laba bersih di atas konsensus) harusnya dapat menjadi sentimen positif bagi IHSG. Namun, katalis ini sifatnya tidak serta-merta mengangkat seluruh indeks, melainkan hanya memicu selective buying pada saham-saham berfundamental kuat yang telah terkoreksi dalam (oversold),” tutur Reza.

Menutup pekan pertama November, tepatnya periode perdagangan 2-6 November 2026, IHSG ditutup koreksi 0,13% ke level 5.050,429 dari 5.057,050 di pekan sebelumnya. 

Seiring dengan melemahnya IHSG, kapitalisasi pasar bursa juga ikut turun. Sepanjang periode pekan ini, kapitalisasi pasar bursa mengalami perubahan sebesar 1,34% menjadi Rp8.744 triliun dari Rp8.862 triliun pada pekan sebelumnya.