EmitenNews.com - Indeks Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo anjlok ke level 67.704,16 pada Rabu (8/7) pagi karena sentimen negatif aksi jual saham kecerdasan buatan global.

Penurunan hari ketiga berturut-turut sebesar 552,80 poin dari sesi perdagangan sebelumnya ini terjadi menyusul pelemahan saham sektor teknologi di Amerika Serikat dan laporan pendapatan teranyar Samsung Electronics.

Aksi jual melanda pasar saham Tokyo setelah pelaku pasar mengkhawatirkan kelanjutan prospek monetisasi investasi AI bervaluasi tinggi di bursa AS. Pada hari sebelumnya, Selasa (7/7), seperti dilaporkan Biggo Finance, indeks Nikkei 225 bahkan sempat mencatat penurunan intraday yang sangat tajam melebihi 1.733 poin sebelum berakhir di level 68.256,96.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Bursa Efek Tokyo (TOPIX) ditutup melemah 39,70 poin menjadi 4.062,26, yang sekaligus mengakhiri tren penguatan dalam tujuh sesi terakhir. Jatuhnya saham Samsung di bursa KOSPI Korea Selatan secara tiba-tiba langsung membalikkan penguatan saham semikonduktor Tokyo yang sempat dicapai pada sesi pagi.

Volume perdagangan di Pasar Utama Bursa Efek Tokyo tercatat mencapai 2,49323 miliar saham dengan nilai total transaksi sekitar 11,44 triliun yen atau setara 70,4 miliar USD. Koreksi selektif terjadi dengan rincian 772 saham bergerak turun dan 746 saham bergerak naik. Sebanyak 21 dari 33 kategori industri mengalami penurunan, dipimpin sektor logam non-ferrous seperti Sumitomo Metal Mining dan Sumitomo Electric Industries, serta sektor permesinan seperti Tsugami dan Disco. Tekanan penjualan juga dialami sektor kimia seperti Resonac dan Shin-Etsu Chemical.

Koreksi massal pada sektor teknologi di kawasan Asia Timur ini turut memberikan perhatian khusus bagi pasar modal Indonesia, terutama bagi para investor domestik yang menaruh perhatian pada saham berbasis teknologi dan ekosistem digital terkait. Menurut pelaku pasar, anjloknya saham Samsung menjadi pemicu turunnya ekspektasi pasar yang sebelumnya dinilai berlebihan terhadap industri AI secara keseluruhan.

Meskipun tekanan jual sektor teknologi domestik dan luar negeri cukup tinggi, mata uang yen yang stabil di kisaran bawah 162 terhadap dolar AS masih memberikan sentimen positif penopang untuk saham-saham sektor ekspor. Pergerakan jangka pendek saham komoditas teknologi ini diproyeksikan masih akan terus menentukan arah pasar global ke depan.(*)