EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia mempertahankan tren kenaikan dan diperdagangkan mendekati USD95 per barel pada Kamis (15/10). Sementara itu, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan mendekati USD106 per barel setelah menguat selama lima sesi berturut-turut di pasar global.

Seperti dilaporkan Trading Economics penguatan harga minyak dunia didorong oleh meningkatnya permusuhan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar dan industri di Indonesia akan gangguan pasokan minyak mentah global.

Meningkatnya ketegangan dipicu oleh insiden sebuah kapal kontainer yang tenggelam di Selat Hormuz pada Rabu (14/10) setelah terkena proyektil tidak dikenal. Di saat yang sama, pasukan Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone di wilayah Arab Saudi.

Eskalasi serangan terhadap jalur pengiriman membuat semakin banyak kapal tanker minyak menghindari area pemuatan reguler. Fenomena ini mengindikasikan bahwa gangguan operasi ekspor minyak global kian meluas akibat ketegangan di kawasan tersebut.

Sementara itu di Eropa Timur, Rusia menuduh Ukraina menyerang dua kilang minyak pada Rabu (14/10), termasuk fasilitas Ryazan yang berkapasitas 400.000 barel per hari. Serangan tersebut dinilai melanggar gencatan senjata energi yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Dari Amerika Serikat, data American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah turun sebesar 11,1 juta barel pada minggu lalu. Angka ini menandai penurunan stok minyak terbesar di AS sejak Juni 2025, yang turut memperketat kondisi pasokan minyak mentah dunia.(*)