Pefindo Prediksi Yield Obligasi Tetap Tinggi pada Semester II 2026
:
0
Ilustrasi yield pasar obligasi tahun 2026. Foto: Ebc.
EmitenNews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memprediksi imbal hasil (yield) obligasi, khususnya Surat Berharga Negara (SBN), masih akan bertahan di level tinggi sepanjang semester II 2026.
Kondisi tersebut didapuk akibat kombinasi suku bunga yang masih tinggi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, hingga tekanan dari instrumen moneter Bank Indonesia.
Direktur Pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Hendro Utomo, mengatakan risiko geopolitik memang mulai mereda, namun pasar kini menghadapi dampak lanjutan berupa inflasi yang meningkat di berbagai negara.
Kondisi tersebut mendorong bank sentral di sejumlah negara, termasuk Bank Indonesia, mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.
"Untuk di semester kedua ini kami melihat ada beberapa hal yang perlu kita awasi dan perhatikan secara bersama perkembangannya karena akhirnya hal ini juga akan bisa mempengaruhi bagaimana dinamika di pasar surat utang korporasi," ujar Hendro dalam paparannya pada Rabu (8/7/2026).
Menurut Hendro, arah kebijakan suku bunga yang cenderung hawkish berpotensi membuat yield obligasi tetap tinggi. Di sisi domestik, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sepanjang Mei dan Juni 2026 sebagai respons terhadap tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain faktor suku bunga, kebutuhan pembiayaan pemerintah juga diperkirakan tetap besar seiring pelebaran defisit anggaran. Pefindo menilai kondisi tersebut membuat pasokan SBN di pasar primer tetap tinggi, sementara jatuh tempo obligasi pemerintah yang cukup besar pada Juli dan September turut menjaga risiko refinancing.
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai menjadi faktor yang menjaga yield tetap tinggi. Imbal hasil SRBI yang telah berada di atas 7,5% menciptakan persaingan dengan obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi dalam menarik likuiditas investor.
Di pasar obligasi korporasi, Hendro memperkirakan aktivitas penerbitan masih akan solid pada semester II 2026. Hal itu didorong kebutuhan refinancing yang mencapai sekitar Rp107 triliun, meski perusahaan dengan peringkat kredit lebih rendah diperkirakan lebih memilih pembiayaan melalui perbankan apabila biaya penerbitan obligasi menjadi semakin mahal.
Pefindo juga mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati perkembangan inflasi domestik, arah suku bunga global, stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan fiskal pemerintah, serta dinamika geopolitik yang masih berpotensi memengaruhi pasar surat utang hingga akhir tahun.
Related News
Tak Dapat Disehatkan, OJK Setop Izin Usaha PT Porto Ventura Kapital
Cadangan Devisa Turun jadi USD146,3 Triliun, BI Catat Penyebabnya
BEI Umumkan Saham HSC Baru, INDO Jadi Anggota Ke-62
BEI Catat 7 Rencana IPO per Awal Oktober
Transaksi Karbon Masih Lesu, OJK Bidik Kontribusi Voluntary Market
OJK Bidik Himpun Dana Rp250T di Pasar Modal, 5 Perusahaan Minat IPO





