Pejabat Fed Sinyalkan Bunga Naik, Dolar Berpotensi Tekan Rupiah
:
0
Indeks dolar Amerika Serikat bertahan di kisaran level 100,5 pada Rabu (23/9), mencatatkan posisi tertinggi dalam delapan minggu terakhir.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat bertahan di kisaran level 100,5 pada Rabu (23/9), mencatatkan posisi tertinggi dalam delapan minggu terakhir. Penguatan mata uang Paman Sam ini didorong oleh pernyataan agresif para pejabat Federal Reserve yang memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan tambahan pada tahun ini.
Menurut laporan Trading Economics, pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 54 persen untuk kenaikan suku bunga Fed berikutnya pada Oktober mendatang. Sinyal pengetatan moneter ini merespons kekhawatiran otoritas moneter AS terhadap laju inflasi yang masih tinggi.
Presiden Federal Reserve Richmond Tom Barkin memberikan peringatan mengenai risiko inflasi yang dapat bertahan lama. "Guncangan inflasi mungkin membutuhkan waktu untuk mereda, dengan risiko bahwa tekanan harga yang tinggi dapat menjadi mengakar," ujar Presiden Fed Richmond Tom Barkin pada Selasa (22/9).
Dukungan terhadap kebijakan moneter ketat juga disampaikan oleh Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins. Collins menyatakan melalui unggahan di LinkedIn bahwa ia mendukung kenaikan suku bunga pada pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa inflasi di masa mendatang dapat tetap berada di atas target 2 persen.
Di sisi geopolitik, penguatan dolar AS sempat tertahan oleh penurunan harga minyak bumi yang merosot selama enam sesi berturut-turut. Penurunan harga energi ini terjadi usai Presiden Donald Trump mengungkapkan para pejabat AS telah menggelar pertemuan yang sangat baik dengan utusan Iran, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi global dan mengurangi permintaan dolar sebagai aset penyelamat.
Keperkasaan indeks dolar AS dan proyeksi kenaikan suku bunga Fed ini menjadi perhatian ketat bagi pasar keuangan Indonesia. Penguatan mata uang AS tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta mempengaruhi aliran modal asing di pasar saham dan obligasi domestik.(*)
Related News
Efek Minyak Mereda, Harga Emas Antam Naik Rp3.000
Pramono Tawarkan 37 Proyek Jakarta Senilai Rp115 Triliun di U20
Emas Stabil di Atas USD4.350 Seiring Penurunan Harga Minyak
Efek Positif Sektor AI Tahan Kontrak Berjangka Saham AS
Pembicaraan AS-Iran Buat Harga Minyak Makin Anjlok
Kejar Aset Kewajiban BLBI, Pemerintah Siapkan Sejumlah Strategi





