EmitenNews.com - Bukit Uluwatu (BUVA) tengah merancang right issue maksimal Rp1,54 triliun. Itu dengan melepas maksimum 6,15 miliar saham baru bernominal Rp50 per helai dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar. Right issue menyapa investor dengan rasio 4:1. Artinya, setiap pemegang 4 saham lama tercatat dalam daftar pemegang saham pada 15 Oktober 2026 berhak memperoleh 1 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk menebus satu saham baru.

Pelaksanaan right issue berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya maksimal 20 persen. Nusantara Utama Investama (NUI), pemegang saham utama dan pengendali secara langsung memiliki 15.034.031.772 saham atau setara 61,07 persen dari jumlah modal ditempatkan, dan disetor, akan mendapat 3.758.507.943 HMETD.

Berdasar surat pernyataan kesanggupan pada 21 Agustus 2026, NUI akan menyerap 3.474.507.943 HMETD. Lalu, mengalihkan 284 juta HMETD kepada Tata Tirta Datun (TTD). Berdasar surat pernyataan pada 21 Agustus 2026, TTD akan menyerap seluruh HMETD. Kalau masih ada sisa HMETD, akan diserap Hapsoro, Ferry Sudjono (FS), TTD, dan PT Henan Putihrai Sekuritas (HPS) sebagai pembeli siaga.

Hapsoro akan menyerap maksimum 389.038.738 saham baru atau Rp97,26 miliar, FS maksimum 1.311.216.321 saham baru atau Rp327,8 miliar, TTD maksimum 1.606.350 saham baru atau Rp401,58 juta, dan HPS maksimum 400 juta saham baru atau Rp100 miliar.

Dana hasil right issue Rp426,34 miliar untuk penyertaan modal Bukit Bali Permai (BBP) selambat-lambatnya pada triwulan IV tahun 2026. Dana itu, selanjutnya akan digunakan BBP sebagai berikut. Sebesar Rp199,26 miliar untuk melakukan pengambilalihan saham atas PT Royal Uluwatu Residence (RUR) dalam pengembangan portfolio grup di Uluwatu, Bali, paling lambat pada Desember 2026.

Lalu, sebesar Rp227,08 miliar untuk penyertaan modal RUR paling lambat pada triwulan IV tahun 2027. Dana tersebut selanjutnya oleh RUR akan digunakan untuk pengembangan lahan, belanja modal konstruksi proyek, termasuk pembangunan infrastruktur serta sarana prasarana, sehubungan dengan pengembangan kawasan, dan aset pada tanah yang nantinya dimiliki RUR di kawasan Uluwatu, Bali.

Rencana pelaksanaan pengembangan West Resort adalah secara bertahap sejak penyertaan modal tambahan tersebut diterima oleh RUR, dan diperkirakan selesai selambat-lambatnya pada triwulan IV tahun 2029. Kemudian Rp417,8 miliar untuk pembayaran dipercepat untuk seluruh pokok utang berdasar perjanjian pembiayaan dengan Bank Mandiri.

Senilai Rp150 miliar untuk renovasi menyeluruh (full renovation) terhadap Alila Ubud, mencakup pembaruan interior, eksterior, serta peningkatan fasilitas penunjang lainnya. Rencana pelaksanaan renovasi Alila Ubud secara bertahap sejak dana hasil penawaran umum terbatas diterima perseroan, dan selesai pada triwulan IV tahun 2028.

Sejumlah Rp150 miliar untuk penyertaan modal tambahan Bukit Lagoi Villa (BLV) paling lambat pada triwulan IV tahun 2026. Dana tersebut akan digunakan BLV untuk transaksi sehubungan dengan belanja modal untuk pembangunan, dan pengembangan infrastruktur di kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan.

Rencana pelaksanaan pembangunan Bintan Land adalah secara bertahap sejak dana hasil penyertaan modal tambahan diterima BLV, dan diperkirakan selesai pada triwulan IV tahun 2029. Sebesar Rp390,34 miliar untuk penyertaan modal tambahan Bukit Permai Properti (BKPP) paling lambat triwulan IV tahun 2026. Dana itu, digunakan BPP untuk pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate di kawasan Uluwatu, Bali.