Penggunaan Dana IPO Harta Djaya (MEJA), Terbesar Untuk Modal Kerja
:
0
Ilustrasi PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA). Dok. iNews.
EmitenNews.com - PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) mengoreksi laporan realisasi penggunaan dana IPO pada tanggal 30 Juni 2026. Emiten Dekorasi Eksterior, Dekorasi Interior, Aktivitas Desain Peralatan Rumah Tangga dan Furnitur itu, memperoleh hasil penawaran umum IPO efektif 12 Februari 2024 sebesar Rp49,44 miliar. Dengan biaya Rp4 miliar, MEJA memperoleh hasil bersih penawaran umum Rp45,44 miliar.
Dalam keterangan tertulisnya Selasa (13/10/2026), Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto menyampaikan bahwa Koreksi ini meliputi penyesuaian format dan pelengkapan pengungkapan sesuai Lampiran Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40 Tahun 2025 tentang Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Termasuk rincian level penggunaan dana, rekening penampungan, target waktu realisasi, serta pos pencatatan dalam laporan keuangan.
Manajemen MEJA merealisasikan dana IPO untuk modal kerja Rp35,95 miliar setara 79,12% dengan pos Uang Muka Subkontraktor serta Beban Pokok Pendapatan.
Perseroan masih menyimpan sisa dana IPO sebesar Rp9,48 miliar setara dengan 20,88% di Bank BCA bunga Rp1 % dengan target waktu penggunaan Dana pada Oktober 2026. Penggunaan sisa dana mengikuti tahapan kebutuhan modal kerja dan progres pelaksanaan proyek.
MEJA Lunasi Seluruh Utangnya pada Bank Central Asia
Sebelumnya PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) melunasi seluruh utangnya kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atas fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Rekening Koran (KRK) pada 30 September 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan tertanggal 5 Oktober 2026, fasilitas KMK yang dilunasi memiliki plafon Rp2 miliar, sedangkan fasilitas KRK memiliki plafon Rp1 miliar. Dengan demikian, total plafon kedua fasilitas tersebut mencapai Rp3 miliar.
Dalam laporannya, Perseroan menyatakan pelunasan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan struktur permodalan dan kewajiban keuangan secara lebih prudent. Langkah ini dilakukan dengan mengurangi kewajiban kredit sekaligus risiko yang berkaitan dengan pembayaran pokok, bunga, dan kebutuhan pendanaan kembali.
Di luar itu, pelunasan utang tersebut mengurangi eksposur perseroan terhadap risiko gagal bayar serta kewajiban pembayaran bunga pada masa mendatang. Kondisi tersebut diharapkan mendukung efisiensi biaya pendanaan dan mengurangi tekanan pembayaran utang terhadap arus kas pada periode berikutnya.
Bagusnya lagi, penyelesaian kewajiban tersebut juga menunjukkan komitmen dalam memenuhi kewajiban kepada kreditur dan menerapkan disiplin keuangan. Pengelolaan kewajiban yang terukur diharapkan memberikan fleksibilitas bagi kebutuhan operasional dan pengembangan usaha, dengan tetap memperhatikan kecukupan modal kerja. ***
Related News
30 Oktober, IMPC Distribusi Dividen Interim Rp273,43 Miliar
Kurangi Porsi, SSS Kini Kuasai 78,95 Persen Saham Victoria Care (VICI)
Pengendali VICI Anne Vabilia Salim Jual 402,4 Juta Saham, Raup Rp301M
Eksplorasi DEWA Tertahan Perizinan, Biaya Tembus Rp14,51M di Q3 2026
Baru Masuk Klub HSC, Pengendali SMMT Malah Tambah Porsi 100 Juta Saham
Tambah 100 Juta Saham, Geo Energy Investama Gelontor Rp380 Miliar





