EmitenNews.com - Terjadi penurunan laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebesar 19% pada semester I 2026 menjadi Rp4,72 triliun. Pelemahan terjadi di tengah pertumbuhan penjualan dan laba usaha, yang tertekan oleh meningkatnya rugi selisih kurs belum terealisasi akibat melemahnya nilai tukar rupiah. 

Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer Indofood Anthoni Salim, seperti dikutip Senin (3/8/2026), mengatakan perseroan masih mampu mempertahankan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian global.

"Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama tahun 2026 ini. Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," ujar Anthoni Salim. 

Jika diperhatikan, kinerja semester pertama menunjukkan bisnis inti emiten Anthoni Salim ini masih bertumbuh, tercermin dari kenaikan penjualan, laba usaha, dan core profit. Namun, volatilitas nilai tukar memberikan tekanan terhadap laba bersih yang dilaporkan karena meningkatnya rugi translasi atas kewajiban dalam mata uang asing.

Manajemen menyatakan tetap fokus menjaga pertumbuhan berkelanjutan melalui keseimbangan antara ekspansi pangsa pasar dan profitabilitas, sekaligus mempertahankan struktur neraca yang sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Laporan keuangan perseroan, mengungkapkan semester I 2026, penjualan neto konsolidasi Indofood naik 9% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp65,53 triliun, dibandingkan Rp59,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sejalan dengan itu, laba usaha meningkat 14% menjadi Rp13,29 triliun dari Rp11,69 triliun, dengan margin laba usaha tetap terjaga di level 20,3%.

Satu hal, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp4,72 triliun dari Rp5,84 triliun pada semester I 2025. 

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan seiring pelemahan nilai tukar rupiah. 

Mengacu pada core profit yang mencerminkan kinerja operasional, Indofood masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 7% menjadi Rp6,18 triliun, dibandingkan Rp5,78 triliun pada semester I tahun lalu. Kenaikan ini menunjukkan fundamental operasional perseroan tetap bertumbuh meski laba bersih tertekan faktor nilai tukar. ***