Potensi Pasarnya USD118 Miliar, RI Genjot Rantai Pasok Hulu Bambu
:
0
Industri kerajinan bambu. (Foto: Kemenperin)
EmitenNews.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak memperkuat ekosistem industri berbasis bambu nasional dari sisi hulu guna menjamin ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Langkah ini diambil untuk menangkap peluang pasar produk bambu dunia yang diproyeksikan melonjak dari USD74,0 miliar pada 2024 menjadi USD118,3 miliar pada 2034 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk 4,8 persen.
Kawasan Asia-Pasifik saat ini menjadi pasar terbesar dengan nilai USD41,5 miliar atau menguasai pangsa 56,2 persen. Namun, ekspor bambu global masih didominasi China dengan pangsa 74,8 persen dan Vietnam 3,2 persen, sedangkan Indonesia berada di posisi 12 dunia dengan pangsa 0,9 persen.
"Potensi pasar global tersebut menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia," kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam keterangannya pada Kamis (1/10).
Untuk menangkap peluang tersebut, Kemenperin menggelar Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali. Program ini mencetak Master Bambu yang kompeten untuk mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Di dalam negeri, pemanfaatan material bambu berpeluang masuk ke program strategis nasional pembangunan 3 juta rumah per tahun melalui teknologi Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) untuk hunian tipe 36. Teknologi ini dinilai prospektif untuk memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional.
"Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara. Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung SDM yang andal dalam mengelola rantai pasok," ujar Putu. Penguatan sektor hulu ini diharapkan mampu mengatasi terbatasnya kelembagaan penyedia bambu berkualitas dan terstandardisasi di Indonesia.(*)
Related News
Kenaikan Minyak dan Inflasi Tokyo Gembosi Nikkei, Pasar Asia Waspada
Saham AS Datar, Pasar Wait and See Data Kerja dan Timur Tengah
Ini Alasan Bahlil Satukan Hilirisasi-Transisi Energi
Brent Tembus USD102, Pasar Energi Indonesia Waspada
Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta, Ini Insentif Pemerintah di 2027
2027, Ada KPR Subsidi Bunga 6% Untuk Pekerja Berpenghasilan Rp17 Juta





