RI Tagih Janji Negara Maju Bantu USD100 Juta Penanganan Perubahan Iklim Negara Berkembang
:
0
EmitenNews.com - Seiring dengan tema Presidensi G20 Indonesia “Recover Together, Recover Stronger” Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak negara-negara G20 mengatasi bersama krisis global yang sedang terjadi dengan semangat solidaritas. Hal ini agar tidak menimbulkan ego yang mempersulit negara di dunia bertahan menghadapi krisis global.
“Kita berkumpul di sini hari ini karena dunia telah berubah dengan cepat. Kita menyebutnya sebagai perfect storm yaitu krisis multidimensi yang cepat. Seperti tantangan keamanan, ekonomi, dan lingkungan ini telah menunda upaya kita untuk mempercepat pemulihan,” ungkap Airlangga pada pembukaan The 8th G20 Parliamentary Speakers Summit di Gedung Nusantara II DPR, Rabu (05/10).
Terkait tantangan yang muncul akibat perubahan iklim, Menko menyampaikan bahwa Indonesia mementingkan keseimbangan pertumbuhan ekonomi yang tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Indonesia telah melakukan transisi energi dengan berbagai upaya mulai dari co-firing PLTU dengan blue ammonia, carbon capture dan storage, serta financial model untuk untuk PLTU yang tidak efisien. Hal tersebut juga terkait dengan target untuk mencapai net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
“Transisi energi harus berkeadilan, berkelanjutan, dan afordable bagi masyarakat,” tegas Airlangga.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa Indonesia mendesak negara-negara maju untuk memenuhi janji mereka untuk menyediakan pendanaan untuk penanganan perubahan iklim sebesar USD100 miliar kepada negara-negara berkembang.
Di sisi lain, Menko kembali menegaskan bahwa multilateral platform seperti G20, PBB, WTO, harus tetap relevan dengan situasi saat ini dan memastikan stabilitas internasional. Forum G20 sendiri merupakan forum yang terbentuk dari krisis ekonomi tahun 1998 dan saat ini mewakili 85% PDB global dan 75% perdagangan dunia. Di tengah krisis multidimensi dengan posisi negara yang sangat terfragmentasi saat ini, G20 harus tetap memiliki peran yang kuat dan tidak boleh redup.
“Sebagian besar konteks dalam concrete deliverables yang dibahas pada pertemuan-pertemuan working group dan engagement group telah disepakati. Satu-satunya masalah yang masih ada adalah geopolitik. Oleh karena itu, pertemuan Parliament 20 (P20) diharapkan dapat menyelesaikan masalah geopolitik yang tersebut,” pungkasnya.(fj)
Related News
Pasar Modal Terancam Turun Kasta, CELIOS Sentil Akuisisi BYAN
Tarif Trump Kerek Harga Baja AS ke Rekor Tertinggi 4 Tahun
Pemerintah: MSCI tak Selalu Benar, Investor tak Perlu Panik
Rupiah Terus Melemah Tertekan Penguatan USD Hari Ini
Harga Emas Kokoh di USD4.150 Imbas Konflik Timur Tengah
Aksi Jual Saham Teknologi Mereda, Indeks Nikkei Kembali Naik





