Saham Murah Selalu Layak Beli? Cara Bedain Saham Diskon & Value Trap
:
0
Saham Murah Selalu Layak Beli? Cara Bedain Saham Diskon & Value Trap (Ilustrasi). Sumber gambar: University of Wisconsin Milwaukee
EmitenNews.com - Pasar saham sering kali bergerak sangat ekstrem. Kadang harga saham naik gila-gilaan hanya karena tren dan sentimen positif sesaat, padahal bisnis aslinya biasa saja. Sebaliknya, saat pasar sedang panik, harga saham perusahaan yang bagus bisa anjlok jauh di bawah harga wajarnya.
Bagi sebagian besar orang, naik-turunnya harga saham tiap hari ini bikin pusing. Tapi bagi penganut value investing, kepanikan pasar justru menjadi peluang emas untuk mencari untung. Kendati demikian, apakah fenomena ini akan selalu relevan?
Apa Itu Value Investing?
Sederhananya, definisi value investing adalah salah satu cara investasi dengan mencari saham perusahaan bagus yang harganya sedang "diskon besar", membelinya, lalu menyimpannya dalam jangka waktu panjang sampai pasar menilainya berharga sehingga harga sahamnya kembali naik ke harga yang sebanding dengan nilai bisnisnya.
Masalahnya, membedakan mana saham yang benar-benar sedang diskon dan mana saham yang harganya murah karena perusahaannya bermasalah (value trap) itu butuh kejelian. Kita tidak bisa memukul rata dengan persepsi bahwa saham yang harganya sedang terjun bebas sudah pasti saham berkualitas yang sedang diskon besar.
“Gak usah panik! Saatnya serok!” Mungkin Anda juga pernah mengalaminya hingga jengah dengan jargon itu. Nyatanya memang memahami market yang sangat dinamis itu tidak semudah membaca teori dan meyakininya. Artikel ini akan memandu Anda secara sederhana dalam memahami, menyaring, dan mempertimbangkan suatu saham dikatakan murah tapi berkualitas dengan membaca kinerja bisnisnya lewat laporan keuangan.
Harga Saham vs Nilai Asli (Intrinsic Value) dan Pentingnya Batas Aman
Tokoh besar dalam dunia investasi, Benjamin Graham, punya prinsip sederhana yang sudah mendunia bahkan sering dijadikan quote bijaksana. "Harga adalah apa yang kamu bayar, sedangkan nilai adalah apa yang kamu dapatkan." Artinya, dalam berinvestasi, jangan sekadar melihat grafik harga saham yang naik turun di layar. Lihatlah mesin bisnis di baliknya. Apakah semua investor saham memercayainya? Belum tentu, tapi value investors sudah pasti meyakininya, seolah itu adalah motto hidup dalam dunia investasi saham.
Mungkin masih ada yang bertanya, kenapa sih dalam prinsip value investing wajib hukumnya membaca laporan keuangan perusahaan? Sederhana saja. Tujuan utama membaca laporan keuangan adalah untuk mencari tahu intrinsic value atau nilai asli dari sebuah bisnis. Anda bisa membayangkannya seperti sedang mengira-ngira berapa harga wajar sebuah warung makan berdasarkan seberapa banyak uang kas bersih yang bisa dihasilkan warung itu beberapa tahun ke depan.
Karena menebak masa depan bisnis tidak sama dengan mendapat kepastian, Benjamin Graham mengenalkan sebuah konsep bernama Margin of Safety atau batas aman.
Related News
Penantian 4 Tahun, GOTO Akhirnya Untung Berkat Rombak Bisnis
Emas ANTM Laris Manis Tanjung Kimpul, Megaproyek EV Jalan Senyap
Era Baru LQ45, Selamat Datang Pemain Baru!
Bank Jago Cuan Berkat Ekosistem, Bukti Bisa Untung Tanpa Bakar Duit
Pasar Jeruk Busuk: Alasan IHSG Anjlok & Asing Buang Barang
Kinerja WIFI, Ini Pemicu Laba Naik Hampir 3 Kali Lipat Saat Ekspansi





