Sayap Patah GIAA, Terkubur Defisit, dan Lupa Cara Bagi Dividen
:
0
Armada pesawat Garuda Indonesia tengah mengudara. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Investor Garuda Indonesia (GIAA) harus menelan pil pahit. Pasalnya, untuk kali kesekian, emiten aviasi tersebut tidak menabur jatah dividen. Alih-alih menyalurkan dividen, untuk sekadar lepas dari kesulitan keuangan amat sangat tidak mudah.
Bahkan, suntikan dana triliunan dari negara berlabel penyertaan modal negara (PNM) seperti angin lalu. Selaksa ajang rutinan dengan stempel dewan perwakilan rakyat. Masih segar dalam ingatan tidak sedikit warga, pemerintah melalui Danantara menginjeksi Garuda senilai Rp23,67 triliun.
Suntikan modal itu, dilakukan dengan skema private placement. Guyuran dana dilakukan dengan setoran modal tunai Rp17,02 triliun, dan konversi utang pinjaman pemegang saham Rp6,65 triliun. Selanjutnya, sekitar Rp8,7 triliun alias 37 persen dari total Rp23,67 triliun itu, dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia, meliputi pemeliharaan dan perawatan pesawat.
Sementara itu, sebesar Rp14,9 triliun setara 63 persen untuk mendukung operasional Citilink. Itu terdiri atas Rp11,2 triliun untuk modal kerja, dan senilai Rp3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021. Guyuran modal triliunan tidak lantas membuat kinerja tancap gas.
Sepanjang 2025, Garuda mencatat rugi bersih USD322,48 juta, bengkak 343,52 persen atau setara 4,5 kali lipat secara year on year (yoy) dari rugi edisi 2024 senilai USD72,70 juta. Pelebaran kerugian itu, seiring pendapatan usaha tergerus 5,85 persen menjadi USD3,21 miliar, dari periode sama tahun 2024 sebesar USD3,41 miliar.
Penurunan terutama topline terjadi pada penerbangan berjadwal menjadi USD2,51 miliar dari USD2,74 miliar, seiring tekanan jumlah penumpang dan yield. Total beban usaha USD3,10 miliar, relatif flat dibanding akhir 2024 senilai USD3,11 miliar. Beban pemeliharaan dan perbaikan melonjak menjadi USD661,36 juta dari USD536,95 juta, diikuti kenaikan beban tiket, penjualan, dan promosi menjadi USD192,70 juta dari USD179,30 juta.
Defisit Bengkak Kuartal I 2026
Garuda per 31 Maret 2026 rugi USD46,48 juta. Susut 39,23 persen dari periode sama tahun lalu boncos USD76,49 juta. Oleh sebab itu, rugi per saham dasar dan dilusian turun ke posisi USD0,00010 dari sebelumnya minus USD0,00289.
Total pendapatan usaha USD762,35 juta, melejit 5,36 persen dari episode sama tahun lalu USD723,56 juta. Itu dari penerbangan berjadwal USD648,10 juta, meningkatkan dari USD603,69 juta. Penerbangan tidak berjadwal USD24,98 juta, berkurang dari USD37,96 juta. Lain-lain USD89,27 juta, naik tipis dari USD81,91 juta.
Rugi periode berjalan USD41,62 juta, berkurang dari USD75,93 juta. Total ekuitas USD68,25 juta, susut dari akhir tahun lalu USD91,91 juta. Defisit USD3,87 miliar, bengkak dari akhir tahun sebelumnya USD3,83 miliar. Jumlah liabilitas USD7,43 miliar, bertambah dari USD7,34 miliar. Jumlah aset USD7,5 miliar, melejit dari akhir 2025 senilai USD7,43 miliar.
Related News
DOID Izin Buyback USD6 Juta, Garansi Free Float Tetap Jumbo
Ekuitas Jumbo, Free Float Secuil, Grup Djarum SUPR Pamit Go Private
Equity Development Investment (GSMF) Siap Private Placement Rp150M
TGKA Siap Bagikan 70 Persen Laba 2025, Dividend Hunter Auto Merapat?
IHSG Awal Pekan Anjlok 124 Poin, Harga DSSA dan CUAN Tinggal Segini
Pesan DPR Kepada OJK dan SRO Pasar Modal Imbas Kasus MSCI





